Kuliah di Jepang, Bukan Sekadar Belajar Bahasa Jepang

Selamat siang, terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk menjadi narasumber di topik kali ini. Mari kita awali dengan perkenalan lebih dulu.

Selamat siang, perkenalkan nama saya Pratama Hanan Alfarisyi, biasa dipanggil Tama. Saya mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Brawijaya angkatan 2016.

Salam kenal Tama. Sekarang sedang sibuk dengan kegiatan apa?

Sekarang sedang ikut program JASSO selama satu tahun dari bulan September 2019 sampai Agustus 2020 di Universitas Kumamoto Jepang. JASSO ini sendiri merupakan salah satu beasiswa hasil MOU Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Brawijaya (UB) dengan Kumadai (Kumamoto Daigaku). Dari Universitas saya sendiri sekarang ada empat mahasiswa yang ikut, dan kemungkinan jumlahnya sama setiap tahun.

Wah sedang di Jepang ya. Kalau boleh tahu, bagaimana proses dari awal sampai bisa terpilih untuk mengikuti program ini?

Kalau persyaratan dari prodi sendiri yaitu mahasiswa yang lulus N2 atau sudah pernah ikut tes wawancara Monbukagakusho. Setiap tahun kriteria bisa berubah, menyesuaikan kemampuan mahasiswa. Yang jelas akhirnya akan diambil empat teratas. Kemudian setelah terpilih, mahasiswa mengisi form yang sudah ada untuk dikirimkan ke pihak Kumadai. Keputusan diterima atau tidaknya itu tergantung dari Kumadai.

Oh begitu, program yang diikuti ini apakah seperti kuliah pada umumnya atau ada kegiatan lain?

Belajar di kampus seperti biasa menyesuaikan jurusan. Di Kumadai dibagi dua course. Ada E-Course (English) dan J-Course (Japanese). Untuk UB sendiri semua mengikuti J-Course. Untuk kelasnya ada pembagian level juga menyesuaikan dengan tingkatan JLPT.

Wah, bagaimana rasanya bisa belajar di Universitas di Jepang?

Tanoshikatta! Sangat menyenangkan bisa belajar di salah satu Universitas yang ada di Jepang.

Apakah ada kesulitan selama belajar di Universitas Kumamoto?

Ketika belajar tidak ada kesulitan, karena oleh kampus sudah disesuaikan levelnya. Ada satu mata kuliah yang lumayan susah, tapi oleh dosennya diberikan tutor (orang Jepang) sesama mahasiswa yang juga mengambil mata kuliah yang sama selama di kelas.

Bagaimana dengan kehidupan di sana?

Saya tinggal di asrama yang disediakan oleh Kumadai, namanya Kumamoto University International House. Kemudian mahasiswa di sini difasilitasi tutor oleh kampus untuk membantu selama tinggal di Jepang. Misalnya untuk membuat residence card, membuat ktp dan sim card, mengisi mata kuliah online, dan lain sebagainya. Ketika pertama sampai ke Jepang pun langsung dijemput oleh tutornya.

Syukurlah, jadi lebih semangat ya belajarnya. Apakah ada kendala yang dirasakan selama tinggal di Jepang?

Kalau sekarang karena sedang ramai dengan coronavirus, ryuugakusei (mahasiswa asing) merasa kurang nyaman, kota juga jadi lebih sepi dan orang-orang jadi lebih waspada dengan sekitar. Bahan makanan dan lain-lain seperti masker, hand sanitizer, tisu toilet banyak habis karena diborong. Kalau untuk ibadah dan makanan halal tidak sulit, karena di dekat kampus ada masjid Kumamoto Islamic Centre, dan di dekat sana ada Kumamoto Halal Food, salah satu rumah makan halal yang pemiliknya ternyata orang Indonesia. Kebetulan saya baito (kerja paruh waktu) di rumah makan tersebut.

Wah, semoga mahasiswa Indonesia di sana tetap sehat ya. Kalau begitu ketika hari libur biasanya menghabiskan waktu dengan apa?

Biasanya ada jadwal baito (kerja paruh waktu), atau kalau libur biasanya main game, sesekali diselingi mengerjakan skripsi juga. Kadang-kadang main ke daerah lain, selama ini sudah pernah ke Fukuoka, Saga, Nagasaki dan Oita.

Seru ya bisa jalan-jalan ke berbagai tempat, dan bisa baito juga di sana. Apa ada aturan khusus kalau ingin baito?

Sebelum baito harus buat izin dulu ke imigrasi Jepang. Kemudian diberikan aturan tempat mana saja yang tidak boleh dijadikan tempat baito, dan selama satu minggu hanya dibatasi 28 jam.

Dengan banyaknya kegiatan sekarang ini, pelajaran, pengalaman, atau manfaat apa saja yang sudah didapatkan selama tinggal di Jepang?

Karena ini pertama kalinya saya merantau dan hidup di negara orang, saya banyak belajar pelajaran hidup. Dari bagaimana caranya mengatur keuangan, lalu karena makanan halal terbatas akhirnya harus bisa masak, dan pelajaran lainnya. Kemudian di sini pun bisa menambah relasi, tidak hanya orang Jepang, tapi sesama pelajar Indonesia juga.

Sebagai penutup, adakah pesan-pesan untuk mahasiswa di Indonesia yang juga ingin kuliah di Jepang?

Tetap semangat belajarnya, dan yang pasti jangan lupa berdoa. Jalan untuk belajar ke Jepang ada banyak kok sebetulnya, selama masih ada kemauan, InsyaAllah dipertemukan jalan.

Terima kasih sudah berbagi pengalaman dengan teman-teman pembaca, semoga dilancarkan segala urusannya selama di Jepang, sehat selalu dan dilindungi dari wabah coronavirus yang sedang ramai ini ya. Semangat untuk belajarnya!

Monbukagakusho, ke Jepang sebagai Japanese Study dan Research Student

Terima kasih banyak sudah memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi pengalaman tentang pengalaman saya mendapatkan beasiswa Monbukagakusho sebagai Japanese Studies dan Research Student.

Pertama-tama, perkenalkan nama saya adalah Yusuf Kurniawan, dulu saya sekolah di salah satu SMA swasta di Bandung jurusan bahasa, karena sudah sejak lama saya punya minat khusus di bidang bahasa. Sedihnya, pada waktu itu kebetulan jurusan bahasa angkatan saya adalah yang terakhir di SMA saya. Saya pun pernah mengikuti SNMPTN ke perguruan tinggi negeri seperti UPI dan UNPAD, dengan jurusan pilihan pariwisata dan Sastra Jepang, karena siapa sih yang tidak ingin masuk universitas negeri impian? Namun sayangnya saya dinyatakan tidak lulus SNMPTN, sehingga sempat merasa sedih berkepanjangan.

Setelah mengalami kesedihan yang cukup panjang, saya dan orang tua mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang universitas yang saya dapat masuki, akhirnya saya memutuskan masuk ke sebuah universitas swata di Bandung yaitu Universitas Nasional PASIM, jurusan Sastra Jepang (memang ngebet banget ya masuk jurusan ini).

Universitas ini bisa dibilang Universitas yang tidak besar dan tidak berlokasi di pusat kota, jumlah mahasiswa perangkatannya pun masih sedikit pada saat itu. Namun setelah empat tahun berkuliah di sana, saya dapat simpulkan bahwa salah satu keuntungan masuk universitas yang tidak besar dalam skala jumlah mahasiswa, ialah hampir tidak ada godaan-godaan seperti hang-out sana sini (karena jauh dari tempat hiburan semacam mal, cafe dst), pacaran (karena opsi terbatas), maupun bolos (karena beban kuliahnya sangat tidak membebani, dan hubungan dosen dan mahasiswa cenderung lebih dekat karena jumlah mahasiswa yang tidak banyak), sehingga aktivitas saat kuliah dalam kelas sangat fokus.

Dan lagi, karena hampir tidak adanya godaan-godaan tersebut, untuk mengisi waktu luang saya dan teman-teman sekelas gunakan untuk belajar bahasa Jepang mempersiapkan JLPT dst (atau tidur siang di kosan teman). Karena itulah di waktu luang pula saya lebih banyak berinisiatif untuk bermain ameba pigg (Online Game Jepang dengan avatar yang kita suka, di mana kita bisa chatting dan berteman dengan orang Jepang secara virtual, tentu saja dengan bahasa Jepang).

Bahkan saya pernah chatting dengan teman Jepang virtual saya sampai tengah malam/begadang, saat liburan kuliah. Atau sesekali bertemu dengan teman Jepang saya di Bandung, untuk sekedar makan di warung pinggir jalan atau jajan. Saya tidak punya banyak, hanya satu dua orang, namun saya jaga silaturahmi dengan baik. Karena menurut saya kualitas lebih baik daripada kuantitas.

Ket: Acara fakultas Sastra Jepang PASIM
Jumlah angkatan yang sedikit, belajar jadi lebih fokus

Tingkat dua saya direkomendasikan oleh dosen untuk mengikuti program dari Monbukagakusho, Japanese Study. Tapi berhubung saat itu saya baru N4 dengan berat hati saya menolaknya, karena merasa belum cukup siap. Tingkat tiga selanjutnya saya direkomendasikan kembali tapi sayangnya, gagal mas bro. “Kadang saya bertanya mengapa kegagalan selalu menimpa diri saya? Damn”. Akhirnya di tingkat akhir, bersamaan dengan sibuknya PKL, sibuknya kerja paruh waktu (mengajar di tempat les, interpreter lepas), dan juga bimbingan skripsi, dan juga kelas yang masih tersisa (di tingkat akhir saya ingat tidur hanya empat jam, entah kenapa semua numpuk di tingkat akhir), yang mengagetkan adalah saya dinyatakan lulus untuk mengikuti program Japanese Study melalui proses seleksi Kedutaan Besar Jepang. Tidak lama sebelum keberangkatan saya ke Jepang, saya menerima kabar baik lainnya, dengan kelulusan ujian N2 saya. Mungkin kata-kata ini terlalu manis tapi saya percaya “Kegagalan adalah awal kesuksesan”, entah siapa yang bilang, tapi saya percaya. Satu hal yang bisa saya sampaikan, belajar bahasa Jepang di Indonesia mungkin tidak mudah karena kita tidak tinggal di tempat di mana bahasa tersebut dituturkan sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai satu capaian. Namun banyak cara yang bisa ditempuh untuk mengaplikasikan apa yang kamu sudah pelajari walaupun kita belum menginjakkan kaki di Jepang.

Untuk program Japanese Studies, saya memilih dan berhasil terpilih masuk Hiroshima University, karena saya tipe orang yang tidak suka tempat yang ramai dan penuh distraksi, jadi sengaja tidak memilih universitas yang ada di kota besar, ditambah universitas ini direkomendasikan juga oleh teman orang Jepang saya yang kebetulan orang Hiroshima. Program Japanese Study ini berlangsung selama satu tahun.

Peserta Japanese Studies mewakili negaranya masing-masing

Program Japanese studies adalah program untuk memberi ksempatan untuk membuat pengalaman langsung baik bahasa maupun budaya bagi mahasiswa jurusan bahasa, sastra atau pendidikan bahasa Jepang. Dan program ini ialah non-degree. Implementasi program di setiap universitas untuk Japanese Studies berbeda-beda tergantung Universitasnya di Jepang. Kesempatan belajar di Hiroshima Univerisity melalui program ini tidak hanya memberikan saya kesempatan untuk belajar bahasa dan budaya Jepang, namun saya pun dapat bertemu dan berteman dengan mahasiswa internasional dan belajar berbagai aspek bahasa dan budaya lainnya juga dari mereka. Yang bisa saya pelajari dari pengalaman itu ialah sikap toleransi, bagaimana saya rasanya jadi minoritas. Toleransi dua arah antara mayoritas dan minoritas, dan bagaimana Jepang sangat memikirkan kaum minoritas, dan tidak melulu soal mayoritas. Oia, Hiroshima terkenal dengan Okonomiyaki-nya, dan jangan sebut Hiroshima-yaki ya, karena orang Hiroshima bilang Okonomiyaki yang ori ya dari Hiroshima (Bentuk dan bahannya cukup berbeda dari Okonomiyaki di Osaka/Kyoto). Satu lagi, pada saat itu saya bermasalah dengan berkomunikasi dengan bahasa inggris, bobroknya bukan main, ketika teman-teman sekelas di sana mentok dengan bahasa Jepang mereka dengan mudah swicth ke bahasa inggris dan melanjukan argumen mereka, tidak dengan saya (niat bales dendam nanti pas balik lagi ke Jepang!).

Sepulang dari Jepang saya menyelesaikan semua kewajiban saya di universitas saya di Bandung dan mengikuti wisuda pada akhir tahun 2015 (walau sebagian besar teman seangkatan saya sudah lulus lebih dahulu). Lalu saya bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang tekstil di Bandung selama setahun lebih sebagai staff trading (kebetulan karena ingin mencoba pekerjaan administrasi di luar bahasa Jepang, namun tetap komunikasi banyak dilakukan menggunakan bahasa Jepang).

Setelah pernah bekerja di berbagai bidang, pengajaran, interpretasi, translasi, administrasi, akhirnya saya berkeputusan untuk kembali lagi ke Jepang melanjutkan studi s2, karena di masa depan saya sangat ingin menjadi seorang akademisi dan juga peneliti di bidang linguistik nantinya.

Mulai dari sana saya memutuskan untuk mengikuti seleksi program Research student dari Monbusho. Kali ini Reseach Student (RS) tidak hanya untuk yang berlatarbelakang S1 bahasa/sastra/pendidikan bahasa Jepang, namun juga dari berbagai latar belakang.

Karena saya tidak bisa bekerja sambil mempersiapkan ujian dalam waktu yang sama, dengan berat hati saya resign dan berhenti dari kantor dua bulan sebelum pembukaan pendaftaran RS. Beresiko? Sangat. Kalau ga lulus gimana? Mau ngapain? Plan B tidak ada. Saya tidak merekomendasikan hal ini, karena tidak sedikit juga yang bisa bekerja sambil mempersipkan segalanya, dan berhasil.

Saya mendaftar ke Hiroshima University lagi karena kebetulan ada profesor yang mau membingbing saya (untuk RS cari profesor sendiri tidak diurus kedubes), dan mendaftar beasiswanya melaui dubes Jepang (lihat websitenya).

Karena prosesnya satu tahun dari awal pendaftaran sampai keberangkatan, saya isi keseharian saya dengan kerja paruh waktu mengajar privat, mengajar di tempat kursus, menjadi penerjemah lepas di perusahaan, dan juga memoles bahasa inggris saya (yang mengkhawatirkan pada saat S1) dengan salah satunya dengan menamatkan novel seri twilight (haha). Setelah melalui segala proses seleksi di bulan januari tahun 2018 saya dinyatakan sebagai salah satu awardee RS dan berangkat di bulan april 2018 ke Hiroshima University, Faculty of Education. Kalian bisa melanjutkan ke studi S2 setelah studi RS ini, dari 6 bulan sampai 2 tahun, panjangnya sesuai dengan ijin dan keinginan pembimbing di Jepang.

Bagi yang ingin melakukan penelitian atau tertarik dengan suatu bidang ilmu tertentu, saya rekomendasikan untuk mengikuti program RS ini, dan yang paling penting jangan takut dengan keterbatasan karena tidak bisa bahasa Jepang, karena program RS ini bisa diikuti dengan sertifikat IELTS dst.

Selama ada di jepang dengan program Research Student, saya tidak bekerja paruh waktu, karena saya merasa dengan beasiswa yang diberikan Monbukagakusho sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dan saya juga ingin fokus dengan penelitian saya (kebetulan juga bukan tinggal di kota besar yang menguras harta).

Saya biasa membuat agenda harian dimana kegiatan sehari-hari saya harus diisi dengan minimal belajar sehari 4 jam. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan. Sehingga saya tidak bisa melewati hari tanpa blajar (ehem). Hal yang paling membuat saya minder adalah saya merasa tidak bisa bahasa Inggris akibatnya merasa terasingkan jika hanya menguasai bahasa Jepang selamat Japanese Studies tahun 2014/2015 lalu. Dari sana saya mulai belajar bahasa Inggris secara otodidak dan native bahasa Inggris gratis (teman, ehem). Akhirnya ketika saya datang ke Jepang untuk kedua kalinya saya dapat berinteraksi dengan bahasa Jepang maupun Inggris (walaupun masih harus dipoles).

Bahasa Inggris bukan lagi kendala untuk bisa saling memahami siswa lain

Hubungan saya dengan komunitas mahasiswa Indonesia di Jepang (utamanya anak PPI) yg paling berkesan selama ada di jepang adalah, di sana sering membahas hal-hal yang lebih mendalam karena bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa S2 dan S3 di sana. Terutama orang Indonesianya pun memiliki wawasan yang lebih luas dalam berbagai hal, baik itu berkaitan dengan politik, pendidikan, seni, sejarah maupun kondisi Indonesia sekarang.

Jika kalian yang membaca artikel ini ingin ke Jepang, terutama dengan jalur beasiswa, alangkah baiknya mempersiapkannya dari sekarang. Seperti track record IPK selama kuliah dan memaksimalkan kemampuan bahasa asing minimal 1 bahasa, bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Karena khususnya untuk Monbukagakusho, jika kalian gagal untuk seleksi tahapan pertama, maka kalian tidak akan bisa mengikuti seleksi tahapan selanjutnya. Selain itu kalian juga harus memikirkan dengan matang kenapa ingin melanjutkan S2. Karena jika ujung-ujungnya kalian kerja di perusahaan Jepang, sebenarnya tidak perlu melanjutkan sekolah lagi, S1 saja sudah cukup. Kecuali jika itu adalah passion-mu.

Pesan dari saya, berdasarkan pengalaman, jika kalian sudah ke Jepang tetaplah rendah hati. Jangan berpikir kamu lebih baik daripada orang lain dengan usaha yang kamu lakukan.

Sekian pengalaman dari saya, semoga bermanfaat!

Kerja di Jepang Minimal Harus N2? Gak Usah!

Data pribadi
Sertifikat JLPT: N3
Lulusan: universitas nasional Pasim

Konnichiwa! Sahabat すかSUKI!di manapun kalian berada. Kali ini Suki chan mewawancarai orang Indonesia yang sedang bekerja di Okinawa lho! Kami berharap wawancara ini bermanfaat bagi kalian yang ingin kerja di Jepang tapi belum punya sertifikat N2!

Selamat sore, sebelumnya terima kasih banyak sudah bersedia kami interview. Rika san asalnya dari mana?

Saya berasal dari Garut, kuliah di Universitas Nasional PASIM. Saya lulus tahun 2017. Hobi saya belajar bahasa, bersepeda, photo-photo (pemandangan) kadang suka nulis blog atau bikin vlog tentang kegiatan selama di Miyakojima (tempat saya bekerja sekarang)

Wah, Rika san youtuber juga ternyata ya. Hehe. Dulu kenapa ingin belajar bahasa Jepang?

Karena dulu ingin jadi guru Bahasa Jepang. Tapi kalau sekarang jadi ingin bekerja di Jepang.

Kapan kamu pertama kali ke jepang?

Saya pertama kali ke Jepang tahun 2018 bulan Oktober untuk Internship di salah satu hotel yang ada di Okinawa.

Okinawa ya. Jauh sekali! Dari mana kamu dapat informasi tentang Internship ke Jepang?

Dari halaman perekrutan di Facebook. Saya mencoba melamar ke sana dan ternyata ada tawaran untuk internship di Okinawa.

Lalu, tanggapan orangtua bagaimana? Mendengar kamu diterima internship di Jepang?

Ya, orangtua mengizinkan saya karena waktu itu hanya 3 bulan saja.

Yang menjadi alasan kamu untuk mencoba kerja di Jepang apa sih?

Untuk improve Bahasa Jepang, memahami budaya jepang langsung. Misalnya kalau di Jepang, kalau ada bencana harus bagaimana. Saya juga tertarik merasakan langsung perbedaan negara maju dengan Negara berkembang.

Internshipnya kan sudah selesai. Tapi kenapa masih bekerja di Jepang?

Saya ditawari perusahaan yang sama selama saya Internship untuk melanjutkan bekerja di sini. Awalnya ada peserta internship dari Negara lain, tapi yang ditawari bekerja di sini hanya saya. Saya juga tidak tahu kenapa, mungkin karena saya bisa bahasa Inggris juga.

Bagaimana kesan pertama kamu saat pertama kali datang ke Jepang?

Yang pastinya sangat senang, karena jepang adalah negara yang sangat ingin saya kunjungi. Akhirnya mimpi saya bias terwujud. Walaupun saat pertama kali sampai di Okinawa ada perasaan kecewa karena kondisi di sana mirip seperti di Indonesia. Bahkan orang-orangnya pun sama seperti orang Indonesia berbeda dengan orang Jepang pada umumnya. Hanya saja Okinawa memiliki pantai yang sangat Indah dan banyak orang datang untuk berwisata.

Keindahan pantai di Okinawa

Di Jepang juga ada tempat yang sama sekali berbeda ya. Mungkin bagi kita image Jepang itu seperti Tokyo yang sangat praktis. Saat pertama kali ke sana berangkat dengan siapa?

Sendiri. Sebenarnya waktu internship grup terakhir ada 2 orang yang berangkat. Tapi mereka berangkat dari Jakarta sedangkan saya dari bandung. Jadilah sendiri.

Sekarang bekerja di mana?

Sekarang bekerja di salah satu hotel di Miyakojima, Okinawa sebagai front office. Katanya hanya di hotel ini saja yang diperbolehkan memakai kerudung dan juga mereka menyediakan waktu untuk shalat. Di hotel tempat saya bekerja, hanya saya saja orang Indonesianya. Tapi karena sudah akrab dengan orang-orang di satu pekerjaan saya tidak merasa khawatir.

Apa saja yang kamu kerjakan selama berkerja di sana?

Saat Internship semua pekerjaan hotel dikerjakan tetapi pekerjaan utamanya sebagai front office desk.

Jadi resepsionis ya.. Kesulitan apa yang selama ini pernah kamu alami dengan pekerjaanmu saat ini?

Kadang salah paham dengan tamu, kadang saya tidak mengerti bahasa Jepang tamu karena cara bicaranya yang sangat cepat. Staff lain orang Jepang rata-rata tidak bisa bahasa Inggris, jadi kalau ada tamu yang menggunakan bahasa Inggris saya yang menangani.

Biasanya dari mana kah pengunjung yang datang?

Karena ada bandara baru, namanya Shimoji Kuuko jadi banyak pengunjung dari Hongkong, dan Korea yang datang. Selain itu, banyaknya pengunjung juga dipengaruhi oleh praktisnya akses langsung dari Narita Airport.

Apa saja sih kegiatannya selain bekerja?

Saat libur biasanya bersepeda, pergi ke pantai atau belajar bahasa jepang. Karena saya berniat tahun ini ingin lulus N2.

Bersepeda disela-sela waktu luang

Wah semangat buat N2 nya yaa! Kalau kerja dari jam berapa sampai jam brapa? Dan dengan apa?

Disini kerja 8 jam. Shift nya beda-beda. Kerjanya tidak menentu, dan liburnya tidak seperti pekerjaan lain sabtu minggu, kadang saya libur di week days. Karena di sini tidak ada kereta, jadi kemana-mana pakai sepeda. Kalau sedang taifuu, ada mobil perusahaan yang antar jemput.

Selama ini tinggal dengan siapa?

Saat Internship, saya tinggal dengan orang Thailand. Tapi sekarang saya tinggal sendiri.

Apa saja kendala yang kamu hadapi selama bekerja di jepang?

Pastinya bahasa polite yang harus dipakai saat bekerja, itu sangat susah. Baanyak kanji yang belum bisa saya baca juga. Komunikasi, kadang salah paham. Sebagai seorang muslim kesulitan mencari makanan halal. Mengakalinya dengan makan ikan. Ditambah Saat taifuu lebih susah lagi karena biasanya mati lampu jadi tidak bias melakukan apapun, dan konbini pun terkadang kekurangan stok.

Lumayan berat juga ya kalau ada taifuu harus menyiapkan persediaan. Kali ini pertanyaannya agak sensitif nih, hehehe. Kalau boleh tahu gaji kamu bekerja sekarang berapa?

Gaji di okinawa berbeda dengan di prefecture lain, disini gajinya tidak begitu tinggi. Sekitar 150 ribu man belum dipotong asransi, nenkin, apartemen dan lain-lain.

Dengan gaji segitu berapa biaya hidup yang diperlukan?

Bagi saya sekitar 20 ribu yen sampai 30 ribu itu sudah cukup dan bisa nabung. Karena tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk transportasi.

Karena pakai sepeda jadi lebih hemat yaa. Ngomong-ngomong Image Jepang dimata kamu seperti apa sebelum kamu datang ke Jepang?

Imagenya orang jepang itu sopan dan menjaga waktu, tapi tidak semua orang jepang seperti itu. Saya pikir orang Jepang selalu tepat waktu, melakukan apapun dengan cepat tapi pada kenyataannya ada juga orang jepang yang telat dan lelet. Haha. Mungkin ini hanya di Okinawa saja, kalau di kota-kota besar saya tidak tahu.

Orang Jepang juga tidak sesempurna seperti yang kita bayangkan ya. Apa kendala sebagai seorang muslim yang kamu hadapi selama berada di Jepang?

Di Miyakojima tidak ada mesjid dan makanan halal. Disini kebanyakan makanan yang mengandung babi jadi saya harus memasak sendiri.

Masak sendiri karena sulitnya makanan halal

Iya ya, biasanya hal ini jadi kendala kebanyakan muslim di Jepang. Memangnya kamu suka masak apa?

Udon, telur, ikan. atau kadang makan sayur. Sayur di sini mahal-mahal. Kadang kalau tidak sempat membuat sarapan, saya biasa makan udon cup saja.

Biasanya Jika ada kesulitan, cerita ke siapa?

Ke teman orang Jepang yang sudah saya anggap seperti ibu saya disini. Kebanyakan teman saya obasan. Saya dekat dengan obasan ini karena dulu pernah kerja di tempat yang sama. Walaupun sekarang sudah pindah tapi masih tetap komunikasi.

Beruntung sekali ya punya teman yang mau mendengarkan kesulitan kita. Adakah hal yang paling berkesan selama ada di sana?

Di sini saya jadi lebih percaya diri karena orang Jepang suka meng apriciate. Memuji hal-hal kecil yang saya pikir itu bukan hal yang begitu berarti. Tapi itulah sifat mereka yang pandai memuji. Dari sana saya jadi semakin semangat.

Tentunya walaupun bagi mereka hal itu adalah hal yang biasa saja, bagi kita sangat berkesan ya. Kira-kira hal yang prlu disiapkan supaya bisa kerja di jepang apa sih?

Pertama selain harus hati-hati terhadap iklim yang berbeda seperti necchuusho (heatsroke), kita juga harus memperhatikan komunikasi/ bergaul dengan orang Jepang. Orang Jepang tidak terbuka seperti orang Indonesia, jadi jangan hanya diam saja. Gunakan bahasa Jepang yang sopan. Untuk bisa kerja di Jepang menurut saya asalkan bisa berkomunikasi dengan baik, itu sudah cukup. Ditambah bahasa Inggris lebih baik lagi. Karena JLPT atau Noken itu kadang tidak dilihat.

Sebenarnya yang tidak punya N2 pun bisa kerja di Jepang ya! Terpikirkan untuk lanjut kuliah S2?

Saya tidak tertarik kuliah lagi, sekarang inginnya kerja saja. Hehe setelah kontrak saya habis, saya berencana untuk memperpanjang lagi beberapa tahun.

Berikan sepatah dua patah kata untuk orang Indonesia yang ingin ke Jepang juga.

Jangan pernah melewatkan kesempatan, kita tidak pernah tau kesempatan yang mana yang akan membawa kita pada mimpi kita!

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya ya! Pengalamannya sangat bermanfaat sekali!

Begitulah sahabat すかSUKI! Ternyata Rika san ini walaupun tidak memiliki N2 tetap bisa bekerja di Jepang ya. Kuncinya adalah pintar-pintar memilih bidang pekerjaan dan lebih giat lagi mengasah kemampuan berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Jepang. Sekarang ini banyak halaman-halaman perekrutan bekerja di Jepang lho! Mimpi kita jadi selangkah lebih dekat! Semangat buat kita semua!!

Pewawancara : Aririn