Pengalaman Internship ke Jepang Melalui Program Pemerintah Jepang

Haloo nama saya chyntiana setiawan, panggil saja chyntia. Saya lahir dan besar di pinggiran kota bandung. Sejak kecil memang sudah punya minat yang besar terhadap Jepang. Saya mengambil jurusan Bahasa Jepang di Universitas Nasional PASIM Bandung di tahun 2010. Kalau dulu waktu masih kecil hobi saya nonton anime, tapi seiring berjalannya waktu dan saya dewasa, saya lebih suka yang realistis jadi hobi nya beralih nonton drama dan Boyband korea.

Alasan saya belajar Bahasa Jepang karena waktu saya masih dibangku SMA, saya suka sekali dengan anime dan setelah melsayakan sedikit research ala anak-anak gitu ya…(hehe) ternyata Japanese speaker itu masih sangat kurang di Indonesia, sedangkan perusahaan Jepang banyak yang sudah invest di Indonesia. Awalnya orang tua saya menentang keras untuk ambil jurusan Bahasa Jepang karena macam-macam hal yang tidak bisa dijelaskan. Akhirnya saya mencoba untuk menjelaskan kalau prospek kedepannya cerah dan menjanjikan (walaupun saat itu saya sedikit sok tahu), dan akhirnya saya diizinkan dengan syarat IPK harus tinggi.

Saya pertama kali ke Jepang di tahun 2018 bulan September melalui Japan Intership program dari pemerintah Jepang, “Japan internship program dari jetro (METI)” saya stay di prefecture Yamaguchi, kota Nagato selama 3 bulan. Untuk Japan Intership program nya sendiri saya diberi tahu oleh teman se grup beasiswa korea di whatsapp, dan saya coba cari tau. Programnya bagus dan tidak terlalu panjang jangka waktu di Jepangnya. Kebetulan saat daftar mepet ke hari terakhir kerja sebelum libur lebaran, ditambah isian formulir dan pertanyaan essaynya banyak sekali. Untung nya saya udah punya essay untuk beasiswa lain, jadi cukup copy paste dan edit sedikit. Alhamdulillah sekali.

Saya pertama kali ke Jepang di tahun 2018 bulan September melalui Japan Intership program dari pemerintah Jepang, “Japan internship program dari jetro (METI)”
saya stay di prefecture Yamaguchi, kota Nagato selama 3 bulan. Untuk Japan Intership program nya sendiri saya diberi tahu oleh teman se grup beasiswa korea di whatsapp, dan saya coba cari tau. Programnya bagus dan tidak terlalu panjang jangka waktu di Jepangnya. Kebetulan saat daftar mepet ke hari terakhir kerja sebelum libur lebaran, ditambah isian formulir dan pertanyaan essaynya banyak sekali. Untung nya saya udah punya essay untuk beasiswa lain, jadi cukup copy paste dan edit sedikit. Alhamdulillah sekali.

Sebelum pergi ke Jepang, tentunya harus mempersiapkan mental dan tidak lupa minta doa’ orang tua haha… karena sebagai muslim, saya punya banyak aturan yang wajib di taati, tapi yang paling berat itu adalah waktu ibadah dan juga makanan. Karena di Jepang jarang sekali ada fasilitas ruang sholat dan makanan halal. Walaupun ada beberapa teman saya yang berpendapat bahwa selama itu ayam dan sapi (bukan babi) itu masih boleh dimakan. Tapi saya pribadi memegang teguh aturan yang menyebut kan bahwa hewan yg disembelih oleh bukan orang muslim, itu tidak halal. Jadi saya lebih memilih jadi vegetarian / hanya makan seafood. Hal ini yang harus di pertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan pergi ke Jepang.

Selain masalah mental, paling persiapannya bawa obat-obatan pribadi karena kalau sakit di sana kan susah (haha) belum tentu cocok obatnya sama orang indoensia. Terus bawa jaket tebal karena kebetulan saya pergi di musim gugur.

Taman Nagato yang bersih enak untuk berjalan-jalan

Kesan pertama saat tiba di Jepang adalah masalah cuaca nya. Saat pertama kali datang panasnya seperti di Jakarta, tapi saat malem suhu nya seperti di Lembang, drastis sekali, saya sampe shock kok bisa berubah secepat itu ya hahaha. Dan karena saya pergi melalui internship program pemerintah. Saat pertama datang, selama 3 hari diadakan training di Chiba. Perserta 30 orang dari seluruh dunia dan tidak semua bisa Bahasa Jepang, tidak semua bisa Bahasa inggris. Jadi kadang kalau ada kerja kelompok itu rame dan bingung. Seneng pokok nya.

ersama-sama. Dan selama di Jepang, saya bekerja Di hotel Yokikan, prefecture Yamaguchi, kota Nagato. Tempatnya cukup terpencil. Selama saya bekerja di sini, saya menterjemahkan website hotel Bahasa Jepang ke Bahasa Iinggris, research mengenai pariwisata asia tenggara dan asia timur, membuat pamphlet wisata berbahasa inggris mengenai daerah wisata sekitar hotel, membuat buku panduan dalam Bahasa Jepang mengenai makanan halal & wisatawan muslim, dan membantu front office membuat dokumen berbahasa Inggris.

Saya bekerja dari jam 08.00-05.00, jalan kaki ke kantor sekitar 10 menit. Agenda keseharian saya saat libur paling nonton tv, liat youtube, belanja isi kulkas di anter pihak hotel pakai mobil ke swalayan terdekat. Karena di tempat saya mau ke mana-mana jauh, dan tidak ada transportasi umum (percaya tidak Jepang masih punya tempat yang tidak ada transportasi umumnya? Beneran lho saya ajah shock).

Kendala yang dihadapi saat berada di Jepang makanan halal, daging halal, dan semua makanan yang di jual di swalayan itu walaupun itu cuman chiki atau yang judul nya ramen rasa seafood tetap saja ada babinya atau campuran daging nya. Jadi saya tidak bisa makan. Terutama rasa makanan Jepang (kecuali yg manis kyk cake & roti ya.. itu enak banget) tidak cocok dengan lidah. Saya memutuskan masak sendiri dengan bumbu yg dibawa dari Indonesia tapi tetep saja rasanya tidak seenak ketika masak di Indonesia, karena minyak di Jepang hanya ada minyak sayur bukan minyak kelapa, jadi nya masak apapun kurang gurih walaupun pakai bumbu Indonesia.

Waktu sholat, dan fasilitas wudhu itu jarang sekali, jadi sering tayamum dan sholat di mana saja. Dan kadang saya juga mendapat komentar dari orang Jepangnya masalah makanan halal dan waktu sholat yang menurut mereka itu ribet dan susah banget. Yah terima saja lah ya, itu resiko saya datang ke Jepang.

Selama di Jepang, gaji tidak di bayarkan oleh pihak hotel/host company, tapi semua intern diberi tunjangan 4000 yen perhari dari pemerintah Jepang. Dan di sana hanya saya sendiri dari Indonesia.

Kalau dihitung, biaya hidup di Jepang kira-kira sekitar 40.000 yen. Karena tidak ada biaya trnasportasi sama sekali, tidak ada biaya main di weekend, tidak ada biaya jajan-jajan di hari libur/ pulang kerja (pengen tapi tidak bisa pergi juga). Hanya butuh biaya makan dan nyetok buah buahan.

Tapi saya ada kesempatan pergi ke Hiroshima mengunjungi teman semasa kuliah diantar host company ke station dan di jemputlagi, sekita 3 hari 2 malam. Habis biayanya 50.000 yen lah hahaha mahal di shinkansen dan beli oleh oleh.
Kalau ada waktu senggang, saya biasa video call dengan keluarga.

Kendala yang paling sulit terutama masalah makanan halal , waktu sholat dan belum lagi masalah kerudung pasti kemanapun pergi diliat orang, karena terpencil tempatnya jadi mugnkin di Yamaguchi hanya saya yang pakai kerudung. Ya kalau ga inget saya di kasih uang yen sama pemerintah mungkin saya bakal sedih huhuhu.

Terlalu sepi untuk bisa disebut sebuah kota dan jarang transportasi umum

Bersyukur juga pergi dari program pemerintah, karena pihak pemerintah Jepang protect dan care juga sama kita, jadi host company punya batasan kalau nyuruh kerja. Tapi jika saya menghadapi kesulitan, saya biasa cerita ke keluarga atau teman seprogram yg sama-sama di tempat terpencil tanpa transportasi.

Overall, program yang ditawarkan pemerintah Jepang ini bagus banget, baguuuuuussss banget, dan amaaan.. kita bisa berkeluh kesah pada pemerintah lho. Karena dalam 3 bulan ada kunjungan ke host company untuk melihat keadaan kita baik atau tidak. Dan ada jadwal training untuk host company dan intern di tengah-tengah program. Pokoknya pergi melalui program ini rekomendasi banget lah.. bagus untuk pengalaman apalagi anak sastra Jepang. Cuman uang nya ga terlalu besar, ambil ilmu dan have fun nya ajah di Jepang. Challenge buat diri kita survive di negara orang. Sendirian dan hanya sendiri. Saat pulang banyak kenangan yang dulu bikin sebel tapi sekarang jadi lucu kayak ke katroan kita sama alat-alat yang otomatis.

Untuk yang terakhir, siapkan mental, pikirkan resiko dari segi agama dan budaya. Kalau sudah mantap dan bersedia menerima apapun resikonya silahkan bekerja di Jepang. Jangan karena gajinya besar semangat kerja di Jepang, penderitaan nya juga besar sih. Untung dan penderitaan sama sama besar. Kecuali kalau 1 tempat banyak orang indonesianya mungkin lebih nyaman.

Wawancara dengan Pelajar yang Pernah Belajar di Osaka!

Data pribadi
Sertifikat JLPT: –
Status tinggal di Jepang: pelajar
Pengalaman part time: ya
Jumlah pekerjaan: 1
Jenis pekerjaan: packager
Informasi tempat bekerja: PT. Life Japan
Posisi: Pegawai magang

Selamat siang, sebelumnya boleh perkenalkan diri terlebih dahulu?

Siang, Nama saya Chyntya Noor Aulia Hamdani. Umur 22 tahun. Asal saya dari Bandung. Saya sekarang semester 7 jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional Pasim. Hobi saya memasak, traveling, main game. Saya anak pertama dari 4 bersaudara.

Chyntya, kapan tiba di Jepang? Kalau tidak salah pergi ke Jepang dalam rangka belajar ya?

Ya. Saya tiba di Jepang pada tanggal 10 April 2018.

Sekitar satu tahun yang lalu ya, ngomong-ngomong Darimana kamu dapat informasi tentang belajar ke Jepang?

Dari kampus saya. Kampus saya mempunyai MOU dengan Osaka Gaigo Gakuin.

Wah, karena ada MOU ini jadinya lebih mudah ya. Bagaimana kesan pertama kamu saat pertama kali datang ke Jepang?

Pertamakali saya datang ke Jepang adalah tahun 2011 bulan November. Karena saya berangkat dengan rombongan, jadi saya tidak menghawatirkan apapun. Di bandara saya sesampainya di di Jepang pun saya tidak mengalami kendala. Ketika keluar dari Narita Airport pun saya sangat menikmati hawa awal musim dingin yang saat itu sekitar 17 derajat celcius. Karena saya tinggal di Bandung, suhu di Jepang saat itu tidak jauh berbeda dengan Bandung saat dinihari. Jepang tampak indah dengan jalanan yang dihiasi Momiji yang sedang merah-merahnya.

Tapi ketika 2018 saya ke Jepang, semuanya terasa berbeda. Mulai dari setibanya saya di Kansai International Airport, lalu Jepang sedang dalam kondisi paling krodit karena banyaknya pelajar tahun ajaran baru dan turis yang datang untuk melihat keindahan bunga sakura. Namun kebuijakan pemerintah Jepang, semua pelajar yang datang tidak akan masuk kedalam barisan krodit. Para pelajar akan diberi barisan VIP untuk di dahulukan daripada turis. Saya benar-benar kagum dengan kebijakan pemerintah Jepang yang selalu mendahulukan pendidikan ketimbang yang lain.

Hmm saya juga terkejut mendengarnya. Bisa sampai mempriotaskan pelajar daripada yang lain. Mungkin pemerintah Jepang juga menaruh harapan lebih ya kepada pelajar asing. Dengan siapa kamu datang ke Jepang?

Saya datang sendiri

Sendiri? Apa tidak takut?

Tidak, sebelumnya saya pernah ke Jepang saat masih sekolah di bangku SMA bersama ayah saya dan rombongan pengajar dari Indonesia, jadi ya saya beranikan diri saja dan bismillah. hehehe

Di mana kamu belajar selama di Jepang?

Di Osaka Gaigo Gakuin, kota Osaka.

Osaka ya. Kota yang terkenal ramai dan terkenal dengan takoyakinya. Hehe Apa saja yang kamu pelajari selama sekolah di sana?

System belajar di OGG adalah mempelajari 4 kanji baru, beberapa bunpou baru, latihan bunpou + kotoba baru, lalu kaiwa dan choukai dalam 1 hari.

Tentunya setiap hari ada sesuatu yang bisa dipelajari ya. Memangnya apa sih Apa alasan kamu belajar bahasa Jepang? Dan sejak kapan?

Kata sensei saya, Bahasa Jepang akan menjadi bahasa Universal berikutnya, makanya saya berusaha untuk menguasai bahasa Jepang. Saya belajar sejak saya SMA kelas 2, tahun 2014.

Ya, bahasa Jepang saat ini merupakan salah satu bahasa yang paling banyak dipelajadi penduduk dari selurh dunia. Dengan program apa kamu belajar di Jepang? Biaya sendiri atau beasiswa?

Saya sekolah dengan biaya sendiri.

Bagaimana dengan agenda kesehariannya selama sekolah di sana?

Pagi hari pukul 08.00 saya tiba di apato (sepulang kerja). Lalu tidur sampai jam 12.00.
Jam 12.00 siang saya bangun lalu mandi dan 12.30 saya makan siang. Jam 12.45 saya berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Saya sampai di sekolah pada pukul 13.15. lalu saya absen menggunakan time card, dan menuju kelas.

Pelajaran dimulai pukul 13.20 dengan absen selama 10 menit, lalu latihan dan penambahan kanji baru selama 30 menit. Lalu istirahat selama 15 menit. Pelajaran kedua adalah pembahasan mengenai bunpou dan pengaplikasiannya selama 30 menit, lalu istirahat 15 menit. Pelajaran ketiga adalah kaiwa dan listening yang diputar dari tape atau dibacakan oleh sensei selama 30 menit, lalu istirahat terakhir 15 menit. Pelajaran keempat biasanya dipakai untuk mengulang pelajaran hari itu selama 30 menit, lalu pukul 17.30 pelajaran usai.

Pukul 18.00 saya sampai di apato. Lalu pukul 18.00, saya pakai untuk tidur sejam, masak untuk bekal di pabrik, dan untuk “beberes” dan mandi sore. Pukul 21.15 saya berangkat kerja.

Gambar 1: Fushimi Inari, Kyoto

Walaupun tujuannya belajar, tapi jangan lupa jalan-jalan untuk mengenal budaya di sana.

Wah lumayan padat juga ya jadwalnya, bisa terbayang bagaimana capeknya. Satu sisi harus belajar, dan di satu sisi lain harus kerja part time juga. Saya sangat salut sekali! Karena saya ingin lebih tahu lagi kegiatan kerja part time di sana, tolong ceritakan dong bagaimana pengalamannya!

Pengalaman saya ketika part time di Jepang adalah bekerja di pabrik frozen food selama 4 bulan. Saya bekerja di bagian packing. ketika wawancara kerja, saya dipersilahkan untuk memilih akan bekerja di bagian ikan, babi, atau sapi, dan saya memilih ikan. Selesai wawancara kerjapun, 2 hari kemudian saya dipanggil untuk langusung bekerja di pabrik.

Dari apato saya ke pabrik membutuhkan waktu sekitar satu jam. Dari apato saya naik sepeda ke daikokucho eki. Lalu melanjutkan perjalan menggunakan chikatetsu dari daikokucho eki sampai suminoekoen eki. Lalu turun dan keluar di pintu keluar no 4. Setelah itu menunggu bus perusahaan selama 5 menit. Lalu dari suminoekoen eki ke pabrik sekitar 30 menit dengan bus.

Sesampainya di pabrik, saya langsung masuk area pabrik dan menuju pos penjagaan untuk mengecek ID card, lalu masuk. Setelah masuk, saya absen menggunakan time card. Lalu menukar sepatu dengan slipper dan menyimpan sepatu saya di loker pribadi fasilitas pabrik. Lalu menuju lift, naik ke lantai 3 tempat mengganti baju dan menyimpan barang bawaan.

Sesampainya di lantai 3, saya langsung menuju ruang makan untuk menyimpan bekal dan menuju ruang ganti pakaian. Di ruang ganti, saya harus mengambil nama lalu di tempelkan di loker yang akan saya gunakan untuk menyimpan barang. Lalu mengganti baju dengan seragam kerja yang sudah disiapkan di dalam ruang ganti. Lalu turun ke lantai 2 untuk mulai bekerja.

Di lantai 2, saya mengganti slipper dengan sepatu boot, lalu memakai masker dan absen menggunakan scan ID card lalu masuk ke ruang steril. Di ruang steril saya harus me-roll seragam saya dari mulai kepala sampai kaki dengan roll sehingga debu dan rambut/bulu menempel pada roll. Setelah itu mencuci tangan dengan sabun selama 30 detik menggunakan timer lalu mengeringkannya. Setelah itu memeriksa kuku sambil diabsen manual oleh leader. Baru masuklah saya kedalam ruangan produksi yang bersuhu 10 derajat celcius.

Di dalam ruangan produksi, saya harus selalu melihat papan tulis yang berisi pembagian tugas oleh leader setiap akan bekerja. Lalu menuju rak aksesoris untuk memakai celemek, sarung tangan rajut, dilapis sarung tangan karet, pelindung tangan. Setiap divisi berbeda. Jika saya kebagian tugas di line 1,2,3, akasesoris celemek dll saya berwarna biru. Jika saya kebagian tugas di line 4,5,6, saya memakai akasesoris celemek dll berwarna pink.

Namun jika saya kebagian mengelompokkan barang sesuai pesanan, saya hanya butuh sarung tangan karena pada bagian ini, saya hanya memasukkan barang sesuai no pesanan pada computer, lalu menyimpannya pada kotak yang akan dibawa oleh mesin.
Walaupun saya bekerja di bagian packaging, tetap saja saya harus menguasai semua job desk yang ada pada “packacging”.

Yaitu memasukkan potongan bagian ikan yang sudah beku sesuai bagian tubuh, lalu memasukkannya sesuai dengan jumlah menurut besarnya, dan langsung disimpan dimesin untuk di timbang dan dibungkus plastic wrap dan dibeeri harga serta label. Atau menghafal semua jenis rumput laut, berat nya pada setiap tempatnya, atau menghafal setiap jenis kerang, berat menurut tempatnya dll. Tergantung dimana saya ditempatkan, disitu saya harus menghafal setiap urutan pekerjaan beserta tata cara dan segala macamnya. Bekerja di pabrik jepang memang dituntut untuk serbabisa.

Jam kerja saya dari pukul 22.00 sampai dengan 07.00 pagi dengan 2x istirahat. Yaitu pada pukul 03.00 dinihari, dan pukul 06.00 pagi sambil bersiap untuk pulang. Pelajar hanya mendapat 28 jam seminggu untuk bekerja. Jadi, selama seminggu saya bekerja hanya 4 hari.

Selain itu, suka duka saya selama di pabrik adlah kendala bahasa. Karena lebih banyak kakek dan nenek yang menjadi leader, saya keslitan untuk memahami apa yang mereka bicarakan termasuk dengan Osaka-ben nya. Lalu mayoritas orang Vietnam yang berada disana selalu ingin menang sendiri, walaupun disisi lain mereka sungguh gigih dalam bekerja. Berbeda dengan orang Thailand, mereka lebih bisa membaur dan lebih terbuka untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain.

Tetapi dengan orang Indonesia sendiri, yang saya rasakan adalah sebagian saling menjatuhkan, sebagian lagi saling mensupport. Saya juga sering sakit punggung karena setiap kerja, dalam bagian apapun, selalu akan mengangkat barang-barang di minimal 7kg beratnya. Sehari saya dapat mengangkat di minimal 50 kotak. Suka nya adalah ketika sudah dekat dengan leader, ketika waktu istirahat tiba, kami saling bercerita, bercanda, dan berbagi bekal. Saya juga sering terjepit mesin karena terkadang mesin error ketika timbangan barang tidak sesuai dengan beratnya.

Terima kasih banyak sudah menjelaskannya dengan sangat detail! Bagi kita orang Indonesia yang belum pernah merasakan bagaimana kerja part time pasti sulit sekali ya karena harus beradaptasi dengan lingkungan ditambah lagi harus belajar membaca kanji maupun petunjuk yang baru. Tapi bisa sampai bertahan sampai sejauh ini saja sudah hebat lho!
Kalau di Jepang tinggal dengan siapa?

Dengan teman sekamar, 3 orang. Mereka satu sekolah dengan saya. Satu orang adalah senior saya.

Beruntung ada senior, jadi bisa sedikit lega ya. Darimana kamu bisa mendapatkan informasi tentang part time?

Dari senapaitachi. (senior yang ada di sana)

Apa saja kendala yang kamu hadapi selama kerja part time?

Bahasa, kanji di papantulis, jenis packingan, berat masing-masing jenis packingan, dll.

Memang sulit, tapi jadi pengalaman yang berharga ya. Kalau boleh tahu, berapa gaji yang kamu terima saat itu?

135,000 yen per bulan.

Bisa jadi tiap daerah standar upahnya berbeda-beda, kalau kamu part time di daerah mana?

Saya tidak tau pasti. Tetapi pabriknya terdapat di pulau buatan diatas laut di pinggiran Osaka.

Apakah ada orang indonesia juga yang baito di tempat yang sama?

Ada, sekitar 5 orang dari sekolah yang berbeda.

Ternyata lumayan banyak juga ya. Kira-kira berapa biaya hidup di jepang? Apakah dengan kerja part time kamu bisa mencukupi kehidupan di sana?

Untuk saya seorang pelajar, biaya makan sebulan 25,000 yen cukup jika masak sendiri. Lalu membayar tagihan listrik, air, gas, dan sewa apato sebulan di 35,000 yen. Tiket kereta langganan sebulan di 10,000 yen. Total sebulan 70,000 yen. Bisa dibilang cukup tapi tidak bisa banyak menabung.

Begitu ya. Kalau sistem pembayaran uang sekolahnya seperti apa?

Empat bulan pertama dibayar saat DP untuk mendapat sertifikat tanda diterimanya di sekolah. Lalu untuk bulan kelima, enam, tujuh dan delapan bisa di cicil di bulan kelima, dan empat bulan terakhir bisa dibayar setelah selesai sekolah untuk menebus sertifikat sekolah.

Kalau ada waktu senggang, apa yang kamu lakukan? Masih bisa jalan-jalan gak? hehe

Iya, saya biasa Jalan-jalan ke festival jika ada, saya lebih banyak tidur karena part time yang terlalu melelahkan, atau bersih-bersih apato, karena sebulan sekali selalu ada pemeriksaan kamar oleh pihak sekolah.

Wah, sekolah sampai seperti itu ya. Tapi enak ya masih bisa jalan-jalan selama di sana. Ngomong-ngomong apakah kamu punya image tersendiri tentang Jepang sebelum berangkat ke sana?

Semua yang saya fikirkan adalah segala sesuatu yang paling buruk yang akan terjadi. Karena itu saya benar mempersiapkan semuanya. Karena yang saya tahu, Jepang itu sangat disiplin dan tepat waktu. Jadi selama di sana, saya berusaha sebaik mungkin untuk bisa menyesuaikan diri.

Gambar 2: Masih sempat jalan-jalan ke masjid Kobe

Apakah kamu seorang muslim? Apa kendala sebagai seorang muslim yang kamu hadapi selama berada di jepang?

Ya, saya muslim. Kendala yang saya dapati selama di sana adalah sulitnya mencari tempat shalat yang tidak terkena najis. Dan bahan makanan serta restoran yang hallal.

Hmm, rupanya bagi seorang muslim rata-rata tempat sholat dan sedikitnya makanan halal masih menjadi problematika ya. Lalu, jika ada kesulitan, biasanya cerita ke siapa?

Ke orangtua, karena mereka selalu bisa menguatkan saya, dan juga teman sekamar terutama senior yang lebih berpengalaman dibanding saya.

Beruntung sekali ya ada orang disekitar yang bisa kita andalkan. Contohnya kesulitan apa yang sering ditemui?

Jika mencari alamat yang tidak terdapat pada maps, karena saya pernah tersesat, atau misalnya saat saya membutuhkan futon teman dan senior saya memberitahu dimana harus beli futon dan mereka pun membantu saya mengangkutnya sampai ke apato.

Apa sih pengalaman yang berkesan selama ada di sana?

Di sekolah tempat saya kursus, setiap bulan selalu ada “kouryoukai”. Dengan hanya membayar 500 yen, siswa dapat makan dan minum sepuasnya. Lalu ada pembagian hadiah dari sekolah untuk siswa yang ulang tahun di bulan itu dan datang ke “kouryuukai”. Setelah selesai makan dan minum, lalu kami melanjutkan untuk karaoke bersama sensei. Saya pun saat ulang tahun pernah mendapat hadiah dai sensei, kalau beli sendiri harganya lumayan mahal, yaitu pen seharga 3,000 yen, dan ‘techou’ lengkap dengan post it 5 warna sepaket dengan pulpen kecilnya seharga 3,000 yen.

Beruntung sekali ya bisa dapat hadiah ulang tahun! Rasanya seperti acara ulang tahun yang sengaja dibuat untuk kita. Hehehe. Untuk yang terakhir kalinya nih, berikan sepatah dua patah kata dong buat yang ingin belajar di Jepang seperti kamu!

Harus mempunyai landasan alasan yang kuat untuk belajar disana. Fokus pada cita-citamu agar kamu tidak terseret atau terlena dengan keadaan yang serba “enak” disana. Ingatlah selalu bahwa keluargamu disini selalu mendoakan dan mendukung semua usahamu. Yakinlah Allah selalu ada untukmu.

Terima kasih banyak Chyntya! Sukses selalu ya