Toilet di Jepang

Setiap negara memiliki budaya dan kebiasaan masing-masing dalam berbagai macam hal, termasuk dalam penggunaan toilet. Jepang juga memiliki etika yang berbeda dengan di Indonesia ketika menggunakan toilet. Kali ini すかSUKI akan membahas etika menggunakan toilet di Jepang untuk mempermudah teman-teman ketika berkunjung ke Jepang.

 

【Jenis Toilet】

Jepang memiliki dua jenis toilet. Pertama, toilet gaya Jepang yang mirip dengan toilet jongkok Indonesia. Kedua, adalah toilet gaya barat atau toilet duduk. Ketika menggunakan toilet gaya Jepang, jongkoklah menghadap lengkungan toilet dengan punggung membelakangi pintu toilet. Toilet gaya barat dapat kita gunakan seperti biasa, yakni buka tutup dan duduk di atasnya. Ingat, jangan jongkok di atas toilet gaya barat, ya!

 

Gambar 1 : Cara menggunakan toilet di Jepang

 
 

【Tisu Toilet】

Toilet Jepang menyediakan tisu toilet yang dapat digunakan setelah buang air kecil atau besar. Tapi berbeda dengan di Indonesia, tisu toilet Jepang dapat larut dalam air. Karena itu buanglah tisu ke dalam toilet dan jangan lupa untuk di flush. Khusus untuk toilet wanita, biasanya disediakan tempat sampah kecil di dalam toilet. Tempat sampah ini khusus untuk membuang pembalut, jangan pernah membuang tisu toilet di sini!

 

Gambar 2 : Buang Tisu ke Dalam Toilet

 
 

【Antri untuk Menggunakan Toilet Umum】

Saat teman-teman ingin menggunakan toilet umum, kalian harus ingat untuk mengantri dengan baik dan benar. Jika toilet penuh, para pengguna diharapkan untuk mengantri dalam satu barisan, tidak berebut, juga tidak berdiri tepat di depan pintu toilet yang ingin digunakan.

 

Gambar 3 : Cara Mengantri di Toilet Jepang

 
 

Penggunaan Slipper Toilet

Ketika teman-teman berkesempatan untuk mengunjungi rumah seseorang di Jepang, teman-teman diharuskan untuk melepas sepatu yang sedang digunakan dan menggantinya dengan slipper selama berada di dalam rumah. Tetapi harus diingat ketika teman-teman ingin menggunakan toilet, teman-teman harus mengganti slipper ini dengan slipper khusus untuk toilet. Slipper rumah bisa ditinggal di depan pintu toilet, sebagai tanda bahwa teman-teman sedang menggunakan toilet. Setelah selesai, jangan lupa ganti slipper toilet dengan slipper rumah lagi.

 

Gambar 4 : Slipper Toilet

 
Di atas adalah beberapa etika menggunakan toilet di Jepang yang harus teman-teman perhatikan. Bukan hanya toilet, pastikan untuk selalu mengikuti dan menghargai kebiasaan yang ada ketika kita berkunjung ke negara lain.

Aplikasi untuk Muslim Pengunjung Jepang

Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbanyak. Sedangkan dari jumlah penduduk Jepang, kurang lebih hanya 1% yang beragama Islam. Itupun kebanyakan adalah warga pendatang dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Iran. Ketika kita berkunjung ke Jepang, perbedaan ini akan sangat terasa. Bukan hanya kurangnya wanita yang menggunakan hijab, teman-teman beragama Islam akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal seperti tidak tahu waktu sholat dan juga mencari makanan halal.
Untuk mengantisipasi hal di atas, artikel すかSUKI kali ini akan memperkenalkan satu aplikasi yang dapat teman-teman ber agama Islam gunakan ketika berada di Jepang.

 

Muslim Pro

Gambar 1 : Aplikasi Muslim Pro

 
Muslim Pro adalah aplikasi yang diperuntukkan untuk orang beragama Muslim. Muslim Pro bisa didownload di Play Store (Android) maupun App Store (iOS). Untuk menggunakan Muslim Pro, teman-teman harus mempunyai jaringan internet dan mengaktifkan GPS handphone kalian.
Untuk internet, teman-teman dapat menggunakan berbagai cara. Untuk teman-teman yang ingin berwisata ke Jepang, teman-teman bisa membeli paket internet luar negeri di provider kalian masing-masing, menyewa portable wifi selama di Jepang, atau menggunakan wifi gratis yang tersedia di banyak tempat di Jepang.
Muslim Pro juga tersedia dalam berbagai bahasa, baik Indonesia, Inggris, maupun Jepang.

 
 

Jadwal Sholat

Jepang memiliki waktu sholat yang berbeda dengan Indonesia. Juga ditambah dengan hampir tidak adanya Masjid dan Mushola yang mengumandangkan Adzan, bisa saja teman-teman melewatkan waktu untuk sholat. Muslim Pro dapat menunjukkan waktu sholat serta mengingatkan teman-teman untuk sholat dengan fungsi alarm.

 

Gambar 2 : Waktu Sholat dan Fungsi Alarm

 
 

Masjid Terdekat

Bila teman-teman berada di Jepang, mungkin ada saatnya kalian harus sholat di tempat terbuka karena tidak adanya tempat sholat. Muslim Pro dapat membantu teman-teman dengan menunjukkan Masjid atau tempat sholat terdekat yang dapat teman-teman gunakan.

 

Gambar 3 : Masjid Terdekat dari Tempat Teman-Teman Berada

 
 

Arah Kiblat

Selain Masjid, tentu saja teman-teman bisa sholat di tempat kerja, sekolah, atau rumah. Pada saat seperti ini, teman-teman harus tahu arah kiblat untuk sholat. Muslim Pro dilengkapi dengan fungsi kompas yang dapat membantu teman-teman untuk mencari arah kiblat.

 

Gambar 4 : Kompas untuk Menentukan Arah Kiblat

 
 

Restoran Halal

Nah, ini adalah fungsi paling penting ketika teman-teman berkunjung ke Jepang. Muslim Pro dapat membantu teman-teman untuk mencari restoran halal di Jepang! Untuk menggunakan fungsi ini pilih Lain -> Tempat Halal. Dengan fungsi GPS, Muslim Pro dapat mencari dan menuntun teman-teman ke restoran halal yang teman-teman inginkan.

 

Gambar 5 : Restoran Halal Terdekat

 
Ketika berada di negara lain yang bukan mayoritas Islam, akan banyak masalah-masalah yang menanti. Dengan bantuan aplikasi seperti Muslim Pro diharapkan teman-teman dapat menikmati wisata atau juga kehidupan di Jepang tanpa melupakan kewajiban sebagai seorang muslim.

Petunjuk Penggunaan Toilet Jepang

Teman-teman すかSUKI, apakah pernah menonton film “Cars 2”? Kalau pernah, pasti ingat dengan adegan toilet Jepang dengan tombolnya yang bikin pusing.
Jepang memang terkenal dengan teknologinya yang sangat canggih, termasuk teknologi yang digunakan untuk toilet. Toilet di Jepang terkenal dengan banyaknya tombol yang memiliki berbagai macam fungsi. Melanjutkan artikel sebelumnya, kali iniすかSUKI akan memperkenalkan petunjuk penggunaan toilet di Jepang.
Toilet umum di Jepang ada dua tipe, yakni toilet dengan kloset jongkok dan kloset duduk. Biasanya, toilet duduk di Indonesia hanya dilengkapi dengan tombol atau lever untuk flush. Berbeda dengan di Jepang, toilet kloset duduk untuk umum di sana sering dilengkapi dengan tombol-tombol yang memiliki fungsi canggih. Seperti misalnya saja toilet duduk yang ada di Bandara Internasional Haneda ini.

Gambar 1: Toilet duduk di Bandara Internasional Haneda

Sekilas toilet duduk ini tidak terlihat berbeda dengan toilet duduk yang ada di Indonesia. Tetapi, tombol-tombol yang ada di samping kloset bisa membuat kita cukup gugup bila kita tidak mengerti arti dan cara penggunaannya. Yuk, mari kita lihat tombol-tombol tersebut lebih dekat.

Gambar 2: Tombol-Tombol di Toilet Jepang

Tombol ini bisa terpasang di dinding, maupun langsung terpasang menjadi satu dengan kloset duduk. Sekarang, Jepang sudah banyak menyediakan penjelasan dalam bahasa Inggris seperti yang tertera di gambar, tapi tidak ada salahnya jika kita mempelajari cara baca dan penggunaan tombol ini satu persatu karena masih ada toilet di Jepang yang tidak mencantumkan penjelasan dalam bahasa Inggris. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing tombol.




FLUSH (流す, nagasu) adalah, sesuai namanya, untuk menge-flush atau menyiram toilet setelah kita buang air kecil atau besar. ‘Flush’ bisa tersedia dalam bentuk tombol seperti di gambar, lever seperti yang ada di Indonesia, atau juga bentuk sensor di mana kita hanya perlu menempelkan tangan kita di depan sensor.

おしり(oshiri, pantat) dengan tombol berwarna biru adalah tombol untuk mengeluarkan air dan mencuci bagian belakang setelah kita buang air besar.

ビデ (bide, bidet) dengan tombol berwarna merah muda adalah tombol khusus untuk wanita di mana tombol ini berfungsi untuk mengeluarkan air dan mencuci bagian kewanitaan setelah kita buang air kecil.

乾燥(kansou, mengeringkan) dengan tombol berwarna kuning adalah tombol dengan fungsi mengeluarkan udara hangat untuk mengeringkan bagian yang tadi telah dibilas dengan air.

止 (tomaru, berhenti) dengan tombol warna merah adalah tombol yang berfungsi untuk menghentikan air yang mengalir untuk membilas setelah kita menekan tombol おしり(Oshiri) atau ビデ(Bide). Jadi, jangan sampai lupa untuk menekan tombol ini sebelum berdiri dari kloset.

水勢 (suisei, tekanan air) tombol (+) dan (–) yang ada di bawah tombol 止 dan おしりini berfungsi untuk mengatur tekanan dan kekuatan air yang keluar ketika kita menekan tombol おしりatau ビデ.

洗浄位置 (senjou ichi, posisi membilas) dengan tombol 前 (Mae) yakni berarti depan dan 後(Ushiro) yang berarti belakang, tombol ini berfungsi untuk mengatur posisi keluarnya air ketika kita menekan tombol おしり (Oshiri). Jadi tidak perlu mengubah posisi duduk, cukup sesuaikan posisi keluarnya air dengan menggunakan tombol ini.

Selain tombol-tombol di atas mungkin ada tombol lain yang sudah sering teman-teman dengar. Seperti tombol yang mengeluarkan bunyi-bunyian untuk mengklamufase suara ketika kita buang air kecil bernama 水流音 (Suiryuuon, suara air mengalir) atau 音姫 (Otohime, ‘suara putri’). Ada juga tombol yang dapat menghangatkan tempat duduk kloset ketika musim dingin bernama 暖房便座(Danbo benza, kloset dengan penghangat).
Bagaimana? Apa teman-teman sudah ingat fungsi dari masing-masing tombol? Toilet di Jepang memang unik, tapi sama seperti ketika teman-teman menggunakan toilet di Indonesia, jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan toilet. Semoga artikel kali ini bermanfaat bagi teman-teman semua.

My Number

【Apa itu My Number?】
Sejak bulan Januari 2016, Jepang telah memulai sistem baru yang bernama “My Number” (Nomor Individu). My Number adalah 12 digit nomor yang diberikan kepada orang yang terdaftar sebagai penduduk Jepang, termasuk di dalamnya adalah warga negara asing.

Sekretariat Kabinet: My Number (Sistem jaminan sosial, pajak, dan tanggap bencana)
Bahasa Indonesia
http://www.cao.go.jp/bangouseido/pdf/lang/12.pdf

 

【Mengapa ada sistem My Number?】
Sebelum adanya sistem My Number, informasi pribadi seperti izin tinggal, nomor pensiun, nomor kartu asuransi kesehatan, dll. dapat dipastikan dengan nomor masing-masing sesuai sistem (nomor-nomor ini masih berlaku dan bisa digunakan). Tetapi, pengawasan informasi setiap sistem memiliki data base yang berbeda, sehingga jumlah pekerjaan menjadi banyak dan pemerintah tidak dapat saling berbagi informasi yang membuat efisiensi berkurang.

Karenanya, sistem My Number di mana kita dapat mengetahui seluruh informasi seorang individu dengan hanya satu nomor saja diberlakukan. Dengan menggunakan satu nomor, kerja pemerintah akan menjadi lebih efisien dan tingkat kepraktisan yang dirasakan warga akan semakin meningkat.

My Number digunakan ketika kita akan mengurus hal-hal yang berhubungan dengan jaminan sosial, pajak, dan tanggap bencana.

 

【My Number dimiliki oleh warga negara asing yang terdaftar sebagai penduduk Jepang】
Apakah semua warga negara asing yang datang ke Jepang akan mendapatkan My Number? Jawabannya adalah TIDAK. Contoh warga negara asing yang bisa mendapatkan My Number adalah orang-orang yang menetap di Jepang selama lebih dari 3 bulan dan orang-orang yang mendaftarkan diri sebagai penduduk Jepang. Oleh sebab itu, para wisatawan yang datang ke Jepang dalam jangka waktu pendek tidak perlu mendaftar sebagai penduduk Jepang dan tidak bisa mendapatkan My Number.

 

【Kapan kita menggunakan My Number?】
Seperti yang telah dijelaskan di atas, My Number digunakan ketika kita akan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan jaminan sosial, pajak, dan tanggap bencana. Kalau begitu, jika teman-teman tinggal di Jepang, kapankah kita perlu menggunakan My Number? Jawaban terbaik adalah ketika teman-teman bekerja di suatu perusahaan di Jepang.

Misalnya, ketika teman-teman telah mendapatkan visa untuk bekerja menjadi penerjemah dan interpreter di suatu perusahaan Jepang, teman-teman akan bergabung dalam jaminan sosial Jepang (asuransi tenaga kerja, jaminan pensiun, dan asuransi kesehatan). Sewaktu teman-teman melakukan registrasi untuk mendaftar asuransi ini, teman-teman akan diminta untuk memasukkan My Number kalian (tetapi, tanpa menulis pun kita juga bisa menggunakan satu form untuk pengurusan hal ini).

Lalu, My Number juga ada hubungannya dengan hari yang paling ditunggu oleh semua pekerja kantoran. Benar, My Number berhubungan dengan hari gajian. Di Jepang, gaji akan kita dapatkan setelah dipotong dengan biaya asuransi dan pajak penghasilan.

Perusahaan harus melaporkan jumlah gaji yang mereka bayarkan dari Januari sampai Desember, termasuk jumlah pemotongan biaya asuransi dan pajak penghasilan, kepada pemerintah daerah tempat karyawannya tinggal. Perusahaan harus menuliskan My Number karyawannya pada laporan ini, karena itu karyawan harus memberi tahu My Number miliknya kepada perusahaan.

 

【Apa ada hubungan antara pekerja paruh waktu dengan My Number?】
Jawabannya adalah YA. Bila pekerja paruh waktu menerima gaji beberapa kali dalam waktu yang telah ditentukan, akan ada pemotongan pajak penghasilan dari gaji tersebut. Karenanya, sewaktu teman-teman diterima sebagai karyawan perusahaan ataupun pekerja paruh waktu, teman-teman akan diminta untuk memberitahukan My Number kalian.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, My Number sangat penting bagi orang-orang yang menetap di Jepang dalam waktu yang cukup lama. Akan menjadi masalah besar jika My Number kalian hilang atau digunakan oleh orang lain untuk hal yang tidak baik. Karena itu, undang-undang mengatur agar dalam perusahaan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat My Number dan masing masing My Number harus diawasi penggunaanya dengan ketat.

Cara Menggunakan Mesin Penjual Otomatis

Tidak hanya di stasiun dan gedung saja, kita bisa menemukan mesin penjual otomatis ketika berjalan-jalan di tengah kota di Jepang. Jepang juga mempunya convenience store, tetapi kita perlu waktu untuk mengantri di kasir setiap kita ingin membeli suatu barang. Lebih praktis untuk menggunakan mesin penjual otomatis ketika kita ingin membeli minuman saja. Artikel kali ini akan menjelaskan cara membeli minuman di mesin penjual otomatis, atau dalam bahasa Jepang disebut Jidou Hanbaiki.

 

【Membeli dengan Uang Tunai】

1.Memilih mesin penjual otomatis untuk membeli minuman yang diinginkan
Tipe mesin penjual otomatis ada banyak, karenanya minuman yang dijual berbeda-beda tengantung mesin penjualnya. Pertama, ayo cari mesin penjual otomatis yang menjual minuman yang teman-teman inginkan.
 

 

2.Memasukkan uang
Untuk pembayaran tunai, teman-teman bisa menggunakan baik uang koin maupun uang kertas. Tetapi mohon berhati-hati karena banyak mesin penjual otomatis yang tidak menerima uang koin 1 yen dan 5 yen, serta uang kertas 2.000 yen, 5.000 yen, dan 10.000 yen.
Mari lihat fungsi-fungsi mesin penjual otomatis pada gambar di bawah ini.
 

 
①Membayar menggunakan uang koin
②Membayar menggunakan uang kertas
③Tuas yang digunakan ketika ada kembalian
④Alat untuk membaca IC card

Jika teman-teman ingin membayar menggunakan uang koin, masukkan koin pada tempat nomor ①. Jika menggunakan uang kertas, masukkan uang pada tempat nomor ②. Rapikan uang kertas agar tidak terlipat, karena jika terlipat ada kemungkinan uang tidak akan terbaca oleh mesin.

 

3.Tekan tombol minuman yang ingin dibeli
Sebagai contoh, kali ini kita membeli minuman botol yang ada di sebeleh kanan atas dengan tombol berwarna biru menyala. Harganya 130 yen (sekitar Rp 15.000).
 

 
 

4.Ambil minuman yang keluar
Setelah menekan tombol, minuman akan jatuh ke bawah. Teman-teman bisa langsung mengambilnya.

 

 

5.Jangan lupa ambil uang kembalian jika ada
Akhir-akhir ini banyak mesin penjual otomatis yang dapat mengeluarkan uang kembalian secara otomatis, tetapi ada juga mesin penjual otomatis yang tidak seperti itu. Jika uang kembalian tidak keluar secara otomatis, kita harus memutar tuas nomor ③ untuk mengeluarkan uang kembalian.

 

【Membeli dengan IC Card】

Jepang memiliki IC Card yang dapat digunakan untuk membayar transportasi umum. Saldo yang ada dalam kartu tersebut juga dapat digunakan untuk membeli barang di mesin penjual otomatis.

1.Memilih mesin penjual otomatis untuk membeli minuman yang diinginkan
2.Menekan tombol minuman yang ingin dibeli
3.Tempel IC Card di tempat nomor ④
4.Ambil minuman yang keluar

Jika teman-teman tidak tahu berapa saldo IC Card, teman-teman bisa tahu setelah menempelkan IC Card kalian di tempat nomor ④.
 

 

Setelah membeli, teman-teman bisa memastikan sisa saldo IC Card kalian. Bisa terlihat bahwa saldo IC Card sudah dikurangi seharga minuman yang dibeli, yaitu sebanyak 130 yen.
 

 

【Harga Minuman di Mesin Penjual Otomatis.】

Kebanyakan minuman kaleng dijual seharga 120 yen (sekitar Rp 14.500) dan minuman botol dijual seharga 150 yen (sekitar Rp 18.000). Tetapi, teman-teman tetap bisa menemukan mesin penjual otomatis yang menjual minuman dengang harga murah seperti 100 yen (sekitar Rp 12.000) atau 80 yen (sekitar Rp 9.600). Walau begitu, mesin penjual otomatis seperti ini biasanya tidak menjual minuman dari perusahaan terkenal. Lalu, mesin penjual otomatis yang berada di tempat yang sulit dijangkau biasanya menjual minuman dengan harga yang lebih mahal dibandingkan mesin penjual otomatis di tempat biasa.

Upah Minimum

【Upah Minimum】
Jepang memiliki kebijakan upah minimum, di mana kebijakan ini diatur dalamUndang-Undang Upah Minimum. Mematuhi peraturan yang telah ditetapkan dalam undang-undang ini, perusahaan harus membayar upah minimum kepada pekerjanya. Jika tidak mematuhi peraturan ini, maka perusahaan akan melanggar undang-undang. Undang-undang ini mencakup semua umur dan nasionalitas, serta mencakup pekerja paruh waktu.

 

【Jenis Upah Minimum】
Ada 2 jenis upah minimum. Pertama, upah minimum yang ditetapkan di setiap perfektur. Kedua, upah minimum yang ditetapkan untuk suatu pekerjaaan tertentu. Secara umum, upah minimum yang harus diketahui adalah upah minimum di setiap perfektur.

 

【Upah Minimum Setiap Perfektur】
Ketetapan upah minimum selalu direvisi pada bulan Oktober setiap tahunnya. Upah minimum setiap perfektur per bulan Oktober 2016 adalah sebagai berikut.

Nomor / Nama Perfektur / Upah Minimum(Yen) Per Jam
1. Hokkaido 786
2. Aomori 716
3. Iwate 716
4. Miyagi 748
5. Akita 716
6. Yamagata 717
7. Fukushima 726
8. Ibaraki 771
9. Tochigi 775
10. Gunma 759
11. Saitama 845
12. Chiba 842
13. Tokyo 932
14. Kanagawa 930
15. Niigata 753
16. Toyama 770
17. Ishikawa 757
18. Fukui 754
19. Yamanashi 759
20. Nagano 770
21. Gifu 776
22. Shizuok 807
23. Aichi 845
24. Mie 795
25. Shiga 788
26. Kyoto 831
27. Osaka 883
28. Hyogo 819
29. Nara 762
30. Wakayama 753
31. Tottori 715
32. Shimane 718
33. Okayama 757
34. Hiroshima 793
35. Yamaguchi 753
36. Tokushima 716
37. Kagawa 742
38. Ehime 717
39. Kochi 715
40. Fukuoka 765
41. Saga 715
42. Nagasak 715
43. Kumamoto 715
44. Oita 715
45. Miyazaki 714
46. Kagoshima 715
47. Okinawa 714

 

【PerbandinganUpah Minimum dan Gaji】
Teman-teman dapat memastikan apakah gaji teman-teman telah sesuai dengan upah minimum menggunakan cara berikut.

Gaji hitungan per jam -> membandingkan antara upah per jam yang diterima dengan upah minimum

Gaji hitungan per hari -> membandingkan upah minimum dengan gaji harian yang dibagi jam kerja rata-rata per hari

Gaji hitungan per bulan ->membandingkan upah minimum dengan gaji per bulan yang dibagi jam kerja rata-rata per bulan

Jangan ragu untuk menghubungi すかSUKI jika ada pertanyaan atau hal yang kurang jelas.

○Pamflet Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang
http://www.mhlw.go.jp/file/06-Seisakujouhou-11200000-Roudoukijunkyoku/H28_saiteichinginpamphlet.pdf

Wawancara dengan Pekerja Magang di Jepang yang Sudah Kembali ke Indonesia(1)

Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 25 tahun
Jenis pekerjaan : Pengelasan
Pengalaman studi di luar negeri : Tidak ada
Level JLPT : N2

Selamat siang. Kali ini adalah kali pertama kami mewawancarai seorang pekerja magang yang sudah kembali ke Indonesia. Saat ini Jepang sudah mulai menerima pekerja magang sebagai perawat, oleh karena itu pastinya jumlah orang yang ingin ke Jepang akan semakin bertambah. Namun sayangnya, informasi tentang kehidupan seorang pemagang masih sedikit. Karena itu, mulai saat ini kami akan mewawancarai para pekerja magang yang sudah kembali ke Indonesia dan membagi pengalaman mereka kepada teman-teman すかSUKI.
Kapan Anda pergi ke Jepang? Lalu, mengapa Anda memilih untuk kerja magang di Jepang?

Saya tiba di Jepang pada tanggal 28 Agustus 2013. Alasan saya ingin pergi ke Jepang adalah karena di universitas saya tidak ada program untuk pergi ke Jepang. Saat saya mencari cara agar bisa pergi ke Jepang, saya menemukan program pelatihan magang di Jepang. Sejak awal saya memang tertarik untuk belajar tentang budaya, teknologi, dan cara kerja orang Jepang, karena itu saya putuskan untuk kerja magang di Jepang.

 

Saya senang Anda ingin belajar mengenai teknologi di Jepang. Anda melakukan pekerjaan “pengelasan” sewaktu berada di Jepang, mengapa Anda memilih untuk melakukan pekerjaan ini.

Saya berniat melakukan pekerjaan apapun, asalkan bisa belajar teknologi di Jepang. Karena itu, saya tidak mengharapkan suatu bidang pekerjaan tertentu, namun berdasarkan hasil, akhirnya saya dipekerjakan di bidang “pengelasan”.

 

Di Indonesia, seharusnya ada pelatihan oleh lembaga penanggung jawab sebelum para pekerja magang diberangkatkan ke Jepang. Berapa biaya yang Anda keluarkan untuk lembaga tersebut?

Saya tidak perlu membayar apapun. Saya mencari lembaga magang sendiri, mendaftar, diseleksi, dan lulus seleksi tersebut. Sewaktu seleksi, ada pemeriksaan seperti memakai anting atau tidak, tato, atau juga alergi. Lalu ada juga tes matematika dan tes kemampuan fisik seperti push-up serta lari 3 km dalam 15 menit. Ada juga tes bahasa Jepang.

 

Ternyata ada juga ya cara untuk bisa kerja magang di Jepang tanpa mengeluarkan uang! Saya baru tahu, jadi perlu belajar lagi nih tentang ketentuan-ketentuannya. Seperti apa pelatihan yang Anda terima sebelum pergi ke Jepang?

Selama 2 bulan pertama kami belajar tentang bahasa, budaya, serta hal-hal yang berhubungan dengan bekerja di Jepang. Setelah itu ada tes, dan yang tidak lulus tes ini tidak diperbolehkan untuk mengambil pelatihan selanjutnya. Setelah itu, kami pindah ke tempat pelatihan lain dan melanjutkan pelatihan lagi selama 2 bulan. Di sini kami di tes setiap hari, harus olahraga dari jam 4.30 pagi, serta mulai belajar dari jam 5 pagi. Sangat melelahkan.

 

Dari jam 4.30 ya. Orang Indonesia memang banyak yang bangun pagi, tapi Anda harus belajar dari pagi sampai sore ya. Jadwalnya benar-benar padat.
Sepertinya Anda memang tertarik dengan Jepang. Apa kesan Anda terhadap Jepang sebelum pergi ke sana?

Saya rasa Jepang adalah negara yang sangat bagus. Seperti yang saya sampaikan tadi, saya tertarik dengan teknologi Jepang dan ingin mempelajarinya. Saya juga senang dengan adanya berbagai musim. Kita bisa menikmati sakura di musim semi, maple di musim gugur, dan salju di musim dingin. Saya juga tertarik dengan budaya Jepang seperti tarian dan pentas, upacara minum teh, serta kaligrafi.

 

Sebagai orang Jepang, saya senang Anda memiliki ketertarikan dengan Jepang secara luas, bukan hanya tentang pekerjaan saja tapi juga budaya Jepang. Setelah Anda tiba di Jepang, apakah kesan Anda berubah?

Ketika mulai tinggal di Jepang, saya terkejut dengan teknologi toilet yang ada. Saya bahkan dulu tidak mengerti cara menggunakan washlet (tawa). Banyak sekali tombolnya, dan penjelasannya menggunakan kanji yang tidak bisa saya baca. Saya pernah menekan tombol yang salah dan akhirnya membuat baju saya basah (tawa).
Lalu, sebelum pergi ke Jepang saya mengira saya akan tinggal di kota dengan banyak bangunan tinggi. Ternyata saya tinggal di desa yang dikelilingi pegunungan, sangat berbeda dengan kehidupan di kota.

 

Saya tidak pernah melihat washlet di Indonesia, jadi mungkin orang Indonesia tidak mengerti cara penggunaannya. Gawat sekali sampai bajunya basah (tawa)
Apakah ada kesan lain yang Anda rasakan ketika tinggal di Jepang?

Berhubungan dengan pekerjaan, pada awalnya saya kira “pengelasan” itu adalah pekerjaan yang sering dilakukan di pinggir jalan seperti di Indonesia. Tetapi, ketika pergi ke pabrik di Jepang, ukuran besinya sangat berbeda. “Pengelasan” yang kami lakukan adalah pengelasan besi sebesar 1 ton, 2 ton, dan 6 ton. Waktu pertama kali saya melihat besi-besi ini, saya sempat merasa saya ingin pulang (tawa).
Selain itu, saya membayangkan apartemen tempat saya tinggal akan seperti di drama-dram Jepang yang sering saya lihat. Ternyata berbeda karena kamar saya tidak ada toiletnya. Kamar saya ada di lantai 3 dan toilet ada di lantai 1. Dapur dan shower pun ada di luar kamar. Saya sedikit kecewa.

 

Mengelas besi yang sangat besar ya. Saya sendiri tidak pernah masuk ke pabrik pengelasan, sehingga tidak bisa membayangkannya. Apartemennya sama seperti share house dan hanya disediakan kamar tidur saja ya. Kalau tidak ada toilet di dalam kamar memang repot.
Pasti ada banyak hal yang terjadi selama tinggal di Jepang. Apakah ada masalah yang Anda alami ketika tinggal di Jepang?

Ada. Pada 3 bulan pertama saya mengalami kesulitan dengan bahasa Jepang. Saya sudah belajar bahasa Jepang di universitas dan juga mendapatkan pelatihan bahasa Jepang, tetapi tetap saja kemampuan berbahasa saya masih kurang. Logat yang digunakan sulit dan tidak bisa saya mengerti. Sebelum terbiasa, saya juga tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik sehingga saya harus bekerja sambil dimarahi setiap harinya.




“Pengelasan” besi sebesar itu, orang Jepang pun pasti pada awalnya tidak bisa. Ada juga daerah yang logatnya tidak dimengeri sesama orang Jepang. Bagi orang asing pasti susah sekali.

Lalu, saya kesulitan karena tidak mengerti cara membaca jadwal kereta. Pernah juga, saya tidak tahu harus turun di stasiun mana dan akhirnya terus naik sampai pemberhentian terakhir. Seharusnya saya turun di stasiun lain dan lanjut dengan menggunakan bus…
Lalu ada juga masalah makanan. Saya beragama Muslim dan tidak bisa makan babi. Kalau tertulis kata-kata babi saya bisa langsung tahu, tapi kalau tidak tertulis, saya jadi tidak tahu apakah makanan ini mengandung babi atau tidak. Saya pernah memakan masakan yang mengandung gelatin karena tidak tahu.

 

Ketika perlu ganti naik bus, ada kemungkinan Anda harus bertanya langsung kepada orang Jepang. Hal ini akan sulit dilakukan ketika Anda tidak bisa berbahasa Jepang. Masalah makanan juga sama. Dengan bertambahnya wisatawan, jumlah toko yang menyediakan makanan halal juga bertambah. Tapi mungkin tidak ada desa yang membuka toko makanan halal.
Pasti bagus jika lembaga atau pengawas, bisa juga perusahaan yang mempekerjakan untuk memberikan penjelasan mengenai makanan-makanan yang kemungkinan mengandung babi. Tapi saya rasa implementasinya akan sulit.
Dari cerita Anda, sepertinya banyak masalah yang terjadi selama tinggal di Jepang. Pada saat itu, dengan siapakah Anda berkonsultasi?

Biasanya saya konsultasi dengan senior orang Indonesia. Kalau masalah tidak bisa diselesaikan sendiri, saya mencoba berkonsultasi dengan penanggung jawab pekerja Indonesia di perusahaan.

 

Ketika kerja magang, jika Anda bukan yang diterima pertama kali, pasti akan banyak senior-senior sebelum Anda. Enak kalau bisa bertanya banyak hal kepada kakak senior.
Interview ini kita laksanakan di Indonesia. Sejak kapan Anda kembali ke Indonesia? Dan apa alasan Anda kembali ke Indonesia?

Saya kembali pada bulan Agustus 2016. Saya kembali ke Indonesia karena jangka waktu kerja magang selama 3 tahun sudah habis. Saya tidak pernah kembali ke Indonesia selama magang, jadi sesuai rencana awal saya terus berada di Jepang selama 3 tahun.

 

Begitu ya. Anda bekerja selama 3 tahun dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk belajar bahasa Jepang sampai Anda bisa menjalani interview dalam bahasa Jepang. Sunggu luar biasa. Kalau boleh, saya ingin bertanya tentang kehidupan Anda di Jepang.
Berapa kira-kira biaya kehidupan di Jepang?

Saya tinggal di satu apartemen berisi 18 orang yang disewa oleh perusahaan di perfektur Okayama. Satu kamar satu orang dengan 3 toilet dan 2 shower di lantai 1. Tidak ada toilet atau shower di kamar. Biaya sewa kamar adalah 15.000 yen (sekitar Rp 1.700.000) per bulannya, sudah termasuk biaya air, listrik, dan gas.

 

Seperti share house ya. Bagaimana dengan makanan

Saya biasanya membuat makanan sendiri untuk makan pagi dan malam. Perusahaan membagikan bekal gratis untuk makan siang. Lalu, sebagai pelepas stres, seminggu sekali saya makan di luar bersama pekerja magang lainnya atau juga bersama guru bahasa Jepang.

 

Saya rasa kehidupan di Jepang itu berat, jadi pasti pelepas stres itu penting! Apakah ada biaya lain yang dikeluarkan?

Saya membeli 2 telepon genggam Jepang, dengan biaya 1.500 yen (sekitar Rp 170.000) per bulannya. Asrama memiliki wi-fi, sehingga saya jarang menggunakan telepon, dan biaya yang dikeluarkan jadi murah. Setiap 3 bulan sekali saya membeli baju dan sepatu baru. Jika dirata-rata, kurang lebih saya menggunakan 10.000 yen (sekitar Rp 1.200.000) per bulannya. Terutama karena musim gugur dan dingin itu cuacanya dingin, saya jadi banyak membeli baju. Harga baju pada musim-musim itu terasa mahal.

 

Kalau di Indonesia kita bisa tinggal tanpa perlu membeli banyak baju ya. Baju musim dingin memang mahal, saya mengerti perasaan Anda.
Anda bekerja di Jepang selama 3 tahun. Bagaimana jadwal kegiatan Anda sehari-hari?

Saya bekerja dari hari Senin sampai Jum’at, dari jam 7.50 – 17.00. Tapi pada dasarnya ada jam lembur sebanyak 2 jam setiap hari. Ketika sibuk, saya pernah lembur sampai jam 22.00 malam. Dan lagi, ketika dapat shift malam, saya harus bekerja dari jam 16:00 sore sampai jam 01:00 atau 03:00 pagi. Selain itu, terkadang saya harus bekerja di hari Sabtu. Ada juga orang yang harus bekerja di hari Minggu.

 

Sibuk sekali sampai harus lembur setiap hari dan bekerja di hari libur. Ketika libur pastinya Anda ingin menyegarkan diri. Apa yang Anda lakukan pada hari libur?

Pada hari Minggu, pagi hari saya bersih-bersih, setelah istirahat sebentar saya pergi berbelanja di siang harinya. Karena saya tinggal di desa, dari apartemen ke stasiun memerlukan waktu 30 menit dengan sepeda. Naik keretanya hanya 5 menit, tapi setelah itu saya harus berjalan dari stasiun ke supermarket selama 15 menit. Tempat untuk berbelanja sangatlah jauh. Apalagi ketika musim dingin, sangat merepotkan. Karena itu, sebisa mungkin saya minta diantarkan dengan mobil orang Jepang.
Selain itu, saya berkumpul dan mengobrol dengan pekerja magang lainnya, bermain game, serta karaoke di kamar. Sangat jarang bisa jalan keluar bersama-sama.
Dengan bantuan dari perusahaan, ada kelas bahasa Jepang sekali seminggu. Tetapi karena peserta lain tidak terlalu pintar berbahasa Jepang, saya merasa kelas ini tidak terlalu berguna bagi saya. Karena itu, saya memilih untuk ikut kelas bahasa Jepang yang diadakan oleh volunteer setiap hari minggu. Bukan hanya belajar bahasa Jepang, di kelas ini saya bisa jalan-jalan dan makan bersama orang Jepang. Saya juga bisa berteman dengan orang Tiongkok, Vietnam, Thailand, dan Kanada yang ikut dalam kelas ini.

 

Semangat belajar yang sangat tinggi, sampai aktif ikut kelas yang tidak disediakan oleh perusahaan. Anda sangat hebat karena bisa belajar dengan sungguh-sungguh. Berteman dengan orang di luar lingkungan perusahaan juga sangat penting. Ngomong-ngomong, apakah ada orang berkebangsaan lain di perusahaan?

Ada. Selain orang Indonesia ada orang Vietnam, Brazil, Chile, Bolivia, dan Peru.

 

Banyak orang dari Amerika Latin ya. Interview kali ini membuat saya merasa bahwa banyak sekali orang luar negeri yang bekerja di Jepang.
Selain hari libur biasa, apakah Anda pernah mendapatkan libur panjang?

Pernah. Saya jalan-jalan ke tempat yang jauh ketika libur panjang Golden Week, libur musim panas, dan musim dingin. Saya pergi ke Tokyo naik bus, juga pernah ke Nagano naik shinkansen untuk bermain ski. Saya juga pernah pergi ke Hiroshima dan Tottori.

 

Ngomong-ngomong, apakah ada kesulitan yang berhubungan dengan pekerjaan?

Ada beberapa hal. Misalnya, jumlah gaji yang diberikan perusahaan kurang lebih sama dengan yang pernah diberitahukan, hanya kurang 1.000 yen (sekitar Rp 120.000). Karena penasaran, saya berkonsultasi dengan pengawas. Ternyata 1.000 yen tadi telah dipotong untuk pesta perusahaan. Ada juga saat di mana gaji saya berkurang karena adanya perubahan peraturan pajak.
Saya juga pernah berkonsultasi dengan pengawas karena menurut perusahaan cuti hanya bisa digunakan ketika sakit. Saya selalu berkonsultasi dengan pengawas, seperti misalnya ketika saya merasa upah lembur saya kurang.

 

Begitu ya. Ternyata memang tidak semua hal dijelaskan terlebih dahulu. Kontrak bisa terus dilindungi kalau pengawas men-support para pekerja magang dengan baik. Syukurlah Anda bisa berkonsultasi langsung dengan pengawas. Saya khawatir karena ada juga orang yang tidak bisa berkonsultasi langsung dan kesulitan.
Ngomong-ngomong, apa ada hal yang ingin Anda ketahui sebelum Anda berangkat ke Jepang?

Kalau bisa, dari awal saya ingin tahu saya akan bekerja di mana nantinya. Saya sempat diberitahu ketika pelatihan, tapi saya tidak tahu seperti apa pabrik dan pekerjaan yang akan saya lakukan. Saya belum pernah bekerja di Indonesia, karena itu saya tidak punya bayangan sama sekali.

 

Pasti semua ingin tahu tempat kerjanya nanti. Kalau tahu, pasti Anda tidak terkejut dengan pabrik dan pekerjaan yang akan Anda lakukan.
Terima kasih telah berbagi banyak hal-hal penting dalam interview pada hari ini. Sebentar lagi kita akan sampai pada pertanyaan terakhir. Apakah Anda mempunyai keinginan untuk kembali ke Jepang? Jika ingin, apa tujuan Anda kembali ke Jepang?

Iya, saya ingin kembali ke Jepang. Kalau bisa, saya ingin pergi dan melanjutkan studi di Jepang. Saya sudah tinggal di sana selama 3 tahun, tapi saya ingin melakukan hal-hal yang belum saya lakukan di sana. Saya ingin lebih belajar bahasa Jepang di sana, pergi ke banyak tempat, dan belajar lebih dalam tentang teknologi Jepang. Misalnya, teknologi dan tekhnik yang berhubungan dengan pengelasan seperti pemotongan, pembukaan lubang, dan juga pendirian bangunan.

 

Sebagai orang Jepang, saya senang jika Anda ingin sekali lagi pergi ke Jepang. Terima kasih banyak. Terakhir, mohon berikan satu atau dua patah kata kepada teman-teman yang ingin kerja magang di Jepang, para pembelajar bahasa Jepang, dan juga orang-orang yang ingin tinggal di Jepang.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya ketika di Jepang kepada banyak orang. Saya juga ingin bisa men-support teman-teman yang ingin pergi ataupun memiliki ketertarikan dengan Jepang.

 

Demikian interview kali ini. Jumlah pekerja di Jepang semakin menurun dikarenakan penurunan jumlah populasi dan berkurangnya angka kelahiran. Jepang memerlukan bantuan dan kekuatan dari teman-teman luar negeri. Kami berharap hasil interview kali ini dapat berguna untuk teman-teman yang ingin pergi ke Jepang. Terima kasih atas kerja samanya!

Wisata di Jepang dengan Google Maps

Teman-teman すかSUKI, apakah ada di antara teman-teman yang berencana untuk pergi ke Jepang? Jika iya, mungkin ada teman-teman yang khawatir dengan masalah yang sering terjadi ketika berwisata, misalnya saja bingung mencari tempat makan yang enak, memastikan waktu beribadah yang tepat untuk yang beragama Muslim, atau juga takut salah naik kereta.

Teman-teman tidak perlu khawatir, karena banyak aplikasi telepon genggam yang bisa teman-teman download dan gunakan untuk mengantisipasi masalah-masalah ketika berwisata. Salah satu aplikasi yang sangat membantu ketika berwisata di Jepang adalah Google Maps!

Semua pasti tahu aplikasi yang satu ini. Sesuai namanya, Google Maps adalah aplikasi yang bisa menyediakan peta bagi kita yang sedang bepergian. Google Maps akan menjadi teman setia ketika teman-teman berwisata di Jepang. Karena selain bisa menunjukkan jalan, Google Maps juga dapat membantukalian yang ingin berwisata dengan menggunakan kereta. Kali ini すかSUKI akan menjelaskan cara menggunakan Google Maps untuk naik kereta.

Sebelum itu, ada beberapa hal yang harus teman-teman perhatikan ketika menggunakan Google Maps, yaitu:
① Asal dan Tempat tujuan
Teman-teman harus tahu asal dan tempat yang ingin teman-teman tuju. Untuk asal, cara paling cepat adalah memasukkan nama stasiun kereta tempat teman-teman berada sekarang. Jika teman-temanmemiliki koneksi internet, kalian cukup menyalakan GPS di telepon genggammu.
Untuk tempat tujuan, teman-teman cukup memasukkan nama tempat yang ingin dituju. Bisa nama kota atau juga toko yang dituju. Google Maps akan mencari stasiun terdekat dengan tempat tujuan secara otomatis.

② Penulisan Nama Tempat
Salah satu kelebihan Google Maps adalah teman-teman tidak perlu menuliskan nama stasiun atau nama tempat dalam bahasa Jepang. Teman-teman cukup menuliskan nama tempat dengan alphabet.

③ Mudah untuk dimengerti
Google Maps adalah salah satu aplikasi penunjuk jalan termudah yang ada. Ketika menggunakan Google Maps untuk naik kereta, Google Maps akan menunjukkan jalur kereta yang harus kita naiki dalam bahasa Inggris dan Jepang, apakah kita harus ganti kereta atau tidak, serta waktu juga biaya yang kita perlukan untuk sampai di tujuan.

④ Koneksi Internet
Semua aplikasi penunjuk jalan biasanya memerlukan koneksi internet, termasuk juga Google Maps.
Ketika di Jepang, teman-teman dapat menuju convenience store terdekat seperti 7 Eleven dan Family Mart untuk menggunakan koneksi internet secara gratis. Jangan lupa untuk menge-save hasil pencarian teman-teman di Google Maps, agar bisa dibuka sewaktu-waktu walau tidak ada koneksi internet di sekitarmu.
Sekarang, mari kita praktek menggunakan Google Maps. Sekaran teman-teman ada kota Nara, Perfektur Nara dan ingin pergi ke Kastil Osaka yang ada di Perfektur Osaka.

【Gambar 1: Google Maps】

Pertama-tama, teman-teman tentunya harus memiliki aplikasi Google Maps. Google Maps sudah terinstall secara otomatis di telepon genggam tipe Android. Untuk iPhone, teman-teman bisa langsung mendownloadnya di App Store.

Setelah teman-teman membuka Google Maps, akan muncul tampilan seperti gambar di atas. Untuk mencari kereta yang tepat, teman-teman tinggal klik “GO” dan memasukkan “Starting Point” atau asal dan “Destination Point” atau tujuan.

Kali ini kita coba untuk memasukkan “Kintetsu-Nara Station” sebagai Starting Point dan “Osaka Castle” sebagai Destination Point. Jangan lupa juga untuk memilih icon kereta yang ada di bawah Destination Point.

【Gambar 2: Masukkan Starting Point dan Destination Point】

Setelah memasukkan “Kintetsu-Nara Stasion” dan “Osaka Castle”, akan muncul daftar kereta dengan jangka waktu tercepat untuk sampai di tujuan. Hal ini bisa diatur dalam pilihan “OPTIONS”, di mana teman-teman bisa memilih agar Google Maps menunjukkan jalur dengan perpindahan kereta paling sedikit atau jarak berjalan kaki yang sedikit.

Dalam pilihan pertama, ditunjukkan bahwa diperlukan waktu 1 jam 4 menit dengan biaya 760 yen untuk menaiki kereta dari Kintetsu-Nara Stasion yang berangkat pada pukul 11:43.

【Gambar 3: Naik kereta dengan Google Maps】

Jika kita memilih pilihan pertama tadi, maka akan muncul penjelasan detail seperti Gambar di atas. Dari Kintetsu-Nara Stasion, teman-teman harus naik “Kintetsu-Nara Line” atau 急行(kyuuko, kereta ekspres) dengan tujuan Osaka-Namba. Setelah sampai di “Ikoma Station”, teman-teman harus turun dan ganti kereta. Teman-teman harus naik kereta di Ikoma Station, yaitu “Kintetsu-Keihanna Line” atau 各停(kakutei, kereta berhenti setiap stasiun) tujuan Cosmo Square yang ada di Platform 2.

Dari situ teman-teman akan ganti jalur kereta di “Nagata Stasion” menjadi “Chuo Line”. Tetapi teman-teman tidak perlu ganti kereta, karena disitu tertulis “Remain on board” atau tetap naik kereta yang sama. Untuk menuju Osaka Castle, teman-teman harus turun di “Morinomiya Station” dan berjalan ke tempat tujuan.

Ketika ingin pulang, cara tercepat adalah naik kereta yang sama ketika teman-teman berangkat. Karena itu, sangat disarankan untuk mengingat-ingat jalur kereta mana yang tadi kalian naiki. Atau teman-teman juga bisa menge-save hasil pencarian dengan Google Maps yang tadidilakukan, dan membukanya lagi ketika ingin pulang untuk kembali dengan kereta yang sama.

Apakah artikel kali ini dapat membantu teman-teman? Untuk selanjutnya, すかSUKI akan terus menyediakan artikel yang dapat membantu lancarnya kegiatan teman-teman di Jepang. Jika ada pertanyaan dan saran, jangan ragu untuk menghubungi kami, ya!