Hal-Hal yang Perlu diperhatikan Saat Menerima Beasiswa

“Saya ingin belajar di Jepang. Apakah ada beasiswa yang memungkinkan saya belajar di Jepang?” ini adalah hal yang paling sering ditanyakan oleh orang indonesia yang ingin belajar di Jepang.

Bisa belajar sekaligus mendapatkan uang, ini merupakan hal yang hebat bukan? Karena tidak perlu bekerja paruh waktu, jadi bisa fokus belajar. Dan yang paling penting adalah beban ekonomi pun berkurang, ya kan?

Istilah shougakukin dalam bahasa jepang, apabila diterjemahkan kedalam bahasa indonesia menjadi “beasiswa” . Terjemahannya memang begitu, tapi walaupun istilah tersebut sama-sama yang dipakai untuk merujuk istilah ‘beasiswa’ tapi keduanya memiliki makna yang berbeda.

【Jenis-Jenis Beasiswa di Jepang】

Berdasarkan penjelasan tentang beasiswa yang kami dengar dari orang indonesia, beasiswa di Indonesia dikatakan ‘tidak memerlukan timbal balik’, tapi beasiswa jepang memiliki beragam jenis, karenanya perlu perhatian lebih saat anda memilih jenis beasiswa.

Sebagai salah satu contohnya, mari perhatikan situs JASSO di bawah ini.
Japan Student Services Organization
http://www.jasso.go.jp/shogakukin/ (laman beasiswa dalam bahasa jepang)
http://www.jasso.go.jp/en/index.html (laman beasiswa dalam bahasa inggris)

Secara garis besar, beasiswa terbagi menjadi 2 jenis
• Bantuan Dana Pendidikan
Ini adalah jenis beasiswa yang memberi bantuan pendidikan yang tidak mengharuskan anda membayar sepeserpun di kemudian hari.
• Pinjaman Dana Pendidikan
Ini adalah jenis beasiswa dimana di kemudian hari anda diharuskan mengembalikan pinjaman. Istilah kasarnya hutang. Beasiswa ini terbagi menjadi 2 jenis yaitu beasiswa dengan bunga dan tanpa bunga. Pelunasan pinjaman dimulai setelah anda lulus.

【Contoh Rincian Pelunasan Pinjaman Dana Pendidikan】

Meskipun rincian pelunasan sudah tertulis dalam brosur, namun karena isinya ditulis dalam bahasa jepang maka すかSUKI akan menjelaskannya dalam artikel kali ini.
Panduan Beasiswa 2017
http://www.jasso.go.jp/shogakukin/oyakudachi/__icsFiles/afieldfile/2017/03/13/guidebook_2017.pdf

Contoh : untuk rentang waktu kuliah selama 4 tahun, maka total dana pinjaman adalah 50.000 Yen/bulan (belum termasuk bunga)
Jumlah Pinjaman : 50.000 Yen × 48 Bulan = 2.400.000 Yen
Periode Kredit : 15 tahun (180 bulan)
Jumlah Yang Harus dilunasi : 2.430.870 Yen / Pinjaman Pokok 2.400.000 Yen / Bunga 30.870 Yen / Cicilan per bulan 13.504 Yen

Contoh diatas merupakan pinjaman beasiswa yang diterima yang berlangsung sejak awal masuk kuliah hingga lulus dengan jangka waktu maksimal. Dengan perincian tersebut maka dapat dipastikan anda baru bisa melunasi pinjaman tersebut saat anda berusia 38 tahun. Sungguh waktu yang lama bukan?
Pinjaman berbunga ini maksimum dapat meminjamkan hingga 12.000 Yen, namun tentu saja jika anda meminjam sedemikian banyak, maka biaya cicilannya pun akan semakin tinggi hingga mencapai kira-kira 30.000 Yen per bulan. Bahkan bagi orang jepang pun, jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit.

【Tidak Bisa Membayar Pinjaman Tepat Waktu】

Anda tentu saja bisa membayar cicilan pinjaman dengan gaji anda, jika setelah lulus langsung mendapatkan pekerjaan, bukan?
Namun tidak ada yang pasti soal mendapatkan pekerjaan, bagaimana jika anda menjadi penggangguran setelah lulus nanti?
Dalam keadaan tidak mempunyai pekerjaan atau menerima musibah lainnya, terdapat mekanisme pengurangan biaya cicilan, penundaan pembayaran, bahkan pembebasan dari pembayaran cicilan.

Namun jika anda tidak membayar cicilan padahal anda tidak mengalami keadaan diatas, maka anda akan masuk black list selama 3 bulan. Dengan demikian, anda tidak bisa membuat kartu kredit, dan keadaan merugikan lainnya seperti tidak bisa mengajukan kredit pemilikan rumah.
List ini akan tetap ada hingga 5 tahun lamanya. Selain itu jika terdapat keterlambatan dalam pembayaran cicilan akan mengakibatkan jumlah cicilan yang harus dibayar kian bertambah. Jadi orang jepang sekalipun walaupun berada dalam kondisi sedang memerlukan pinjaman, mereka tidak semudah itu mengajukannya. Mereka memikirkan dengan teliti bisa tidaknya melunasi pinjaman tersebut tepat waktu di masa mendatang.

【Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Selama Kuliah di Jepang dengan Menggunakan Pinjaman Dana Pendidikan】

Penjelasan sejauh ini membahas seputar mekanisme beasiswa untuk pelajar jepang, sedangkan mekanisme beasiswa untuk pelajar asing tidaklah sama. Banyak orang yang menanyakan pada kami tentang mekanisme beasiswa, tapi sulit rasanya untuk memberikan informasi semacam itu, karena masing-masing beasiswa memiliki aturan tersendiri. Oleh sebab itu, sangat disarankan untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin anda pelajari, mencari universitas yang dapat menunjang minat studi anda tersebut, serta mencari informasi tentang apakah kampus tersebut menyediakan beasiswa.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Jika Kampus Menyediakan Beasiswa
• Apakah beasiswa tersebut mengharuskan anda membayar pinjaman di kemudian hari?
• Jika iya, apa saja syaratnya?
Kedua hal ini merupakan hal yang perlu ditanyakan sebelum menerima beasiswa.

Jika anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh, anda bisa membaca dokumen yang disediakan oleh JASSO di bawah ini.
Brosur Studi ke Jepang 2017-2018
http://www.jasso.go.jp/ryugaku/study_j/scholarships/brochure.html

Akhir-akhir ini masalah yang ditimbulkan karena adanya perbedaan pemahaman makna beasiswa jepang dan indonesia tampaknya meningkat. Untuk menghindari hal itu, mari menjadi pribadi yang gemar mencari informasi dan selalu mengkonfirmasi hal-hal yang tidak terlalu anda ketahui secara detail.

Wawancara dengan Seorang Pekerja Wanita Indonesia di Jepang (bagian awal)

Jenis kelamin : Wanita
Asal Sekolah : D3 Jurusan Bahasa Jepang
Kemampuan Bahasa Jepang : N4 (lulus saat kuliah tahun pertama)

 
Selamat siang, Hanako(Nama samaran). Terima kasih sudah bersedia diwawancara di hari liburmu ini.. Mohon kerjasamanya.
Kapan Hanako pertama kali datang ke Jepang?

2 April 2014. Saya datang ke Jepang untuk belajar karena menerima beasiswa dari Monbukagakusho. Saya sekolah bahasa Jepang yang berada di Shinjuku selama 1 tahun.

 
Oh begitu ya. Menerima beasiswa dari Monbukagakusho artinya kamu memang ada keinginan untuk sekolah di Jepang ya? Awalnya, kenapa anda belajar bahasa Jepang?

Dari dulu saya berpikir ingin belajar bahasa asing lain selain bahasa Inggris. Mengapa selain bahasa Inggris, karena bahasa Inggris bisa dipelajari sendiri (tertawa). Saya lulusan jurusan bahasa Jepang di universitas di Indonesia, kenapa saya pilih bahasa Jepang, karena saya pernah mempelajari bahasa tersebut di bangku SMA dan mulai tertarik sejak saat itu. Jadi saya memutuskan kuliah bahasa Jepang karena ingin lebih mempelajarinya.

 
Oh begitu. Jurusan Bahasa Jepang di Indonesia terbagi menjadi S1 dan D3 kan ya? Kampus di daerah tempat tinggal Hanako tersedia 2 jenis strata pendidikan tersebut, mengapa memilih D3?

Saya memilh D3 karena bisa cepat lulus (tertawa). Di D3 kita bisa belajar bahasa jepang yang digunakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan Pariwisata dan Hospitality. Selain itu juga karena kita bisa lanjut S1 di pertengahan kuliah D3.

 
Begitu ya. Hebat sekali anda karena memilih dengan memiliki tujuan dan pertimbangan yang matang. Saya tidak tahu kalau ternyata bisa pindah ke S1 dari D3.
Bagaimana kehidupan sekolah bahasa Jepangmu saat tahun pertama?

Sekolah berlangsung Senin-Jumat jam 09:00-15:00. Pertengahan tahun pertama saya tidak bisa bekerja part time. Saya mencoba melamar di KFC atau restoran, tapi kemampuan bahasa Jepang saya dibilang belum bagus jadi tidak diterima oleh mereka.

 
Saya pikir orang yang bisa berbahasa Jepang dasar atau tingkat tertentu akan diterima karena KFC atau restoran sering kekurangan karyawan, tapi ternyata tidak begitu ya. Jadi, apakah setelah itu anda tidak kerja part time sama sekali?

Setelah itu saya kerja part time di restoran Unagi (belut) yang diperkenalkan oleh teman saya. Saya part time seminggu 2-3 kali, dengan 5 jam kerja per harinya. Pekerjaannya adalah menyiapkan acar atau minuman di dapur untuk para tamu. Isi restorannya sekitar 50 seat, dan upah per jamnya adalah 950 yen.

 
Saya tidak bisa mengatakan kalau upah 950 yen perjam adalah jumlah yang besar untuk daerah sekitaran Shinjuku, Tokyo. Tapi karena anda menerima beasiswa juga, penghasilan tersebut cukup untuk uang saku ya.

Belajar bahasa Jepang 3 tahun di Indonesia sama levelnya dengan belajar 1 tahun di Jepang (tertawa). Isi yang dipelajari sebagian sama dengan di Indonesia. Tapi karena kalau di Jepang yang mengajari adalah native, hasilnya berbeda. Saya berpendapat begini bukan karena saya pernah kuliah di jurusan Bahasa Jepang lho, saya pikir orang yang baru pertama kali belajar pun pasti akan berpikir begitu. Untuk orang yang ingin cepat pintar bahasa Jepang sebaiknya tidak usah kuliah bahasa Jepang di Indonesia, langsung sekolah bahasa Jepang di negaranya saja.

 
Ternyata memang belajar yang paling efektif itu kalau diajari oleh native ya (tertawa). Tidak salah jika saya bilang jika Jepang adalah lingkungan yang mendukung untuk menjadi pintar berbahasa Jepang karena kita tidak bisa hidup disini apabila tidak menggunakan bahasanya ya.
Anda kan melanjutkan sekolah ke akademi setelah lulus sekolah Bahasa Jepang, kenapa anda memilih untuk lanjut ke akademi?

Karena hobi saya adalah memasak, saya ingin lanjut ke Akademi Memasak dan mempelajari Washoku (masakan Jepang). Sebab itulah saya memutuskan lanjut ke akademi setelah lulus dari sekolah Bahasa Jepang.

 
Anda punya tujuan konkret sejak sebelum datang ke Jepang ya. Orang yang seperti itu menurut saya hebat sekali karena mereka akan tetap berjuang meskipun ada rintangan demi mencapai tujuan.
Bagaimana dengan kehidupan akademi anda?

Kuliah di akademi berlangsung dari Senin sampai Jumat selama 2 tahun. Ada hari dimana kuliah berlangsung dari pagi sampai malam, ada juga yang hanya sampai siang.
Tahun pertama saya mempelajari masakan cina, masakan barat, pastry, dan lainnya. Awalnya saya tidak mengerti sama sekali isi kuliah karena banyaknya istilah khusus dan cepatnya tempo berbicara para dosen. Akhirnya saya bisa mengerti juga setelah menjalani kuliah selama setengah tahun.

 
Ternyata tetap susah ya meskipun sudah sekolah bahasa Jepang selama 1 tahun. Bagi orang Jepang pun pasti susah jika konentarsi keahlian yang diambil berbeda. Awalnya pasti menderita sekali ya. Anda pasti sudah berjuang keras.

Pertama-tama dosen akan melakukan demo saat praktek memasak, berkat itu saya mengerti karena melihatnya. Tapi saya tidak mengerti resep yang ditulis (tertawa).
Saya sangat menikmati saat-saat praktek tersebut karena bisa makan makanan enak.

 
Karena semuanya ingin menjadi seorang professional, kelihatannya masakannya enak ya. Saya juga ingin coba (tertawa).
Saat saya mewawancarai siswa asing yang bersekolah di bidang fashion, saya dengar mereka menghabiskan banyak uang karena harus membeli kain dan peralatan lain sendiri. Apakah sekolah masak juga begitu?

Ya. Saya membayar sekitar 300.000 yen khusus untuk membeli pisau, seragam, buku pelajaran, dan lainnya (tidak termasuk uang sekolah).

 
Ternyata memang begitu ya. Kalau begitu, apakah anda menghasilkan uang dari melanjutkan kerja part time yang tadi disebutkan?

Saya bekerja di restoran Unagi (belut) tersebut selama kurang lebih 1 tahun, lalu setelah itu ganti ke restoran yang dekat dengan akademi saya. Tempat itu juga dikenalkan oleh teman saya, upah perjamnya 1000 yen. Saya kerja disitu dengan jam kerja yang sama dengan part time yang saya lakukan saat sekolah bahasa Jepang.

 
Sudah saya duga pasti anda kerja part time di tempat yang bisa sekalian belajar masak ya. Seperti apa pekerjaannya?

Saya bekerja di dapur. Di sini saya menghasilkan banyak pengalaman lho (tertawa).

 
Tolong ceritakan pengalaman tersebut (tertawa).

Masih banyak hal yang tidak saya mengerti meskipun saat itu saya mempelajari tentang masak karena masih mahasiswi. Padahal spesialisasi saya Washoku (masakan Jepang), tapi saya bahkan tidak tahu cara membuatnya ataupun cara mengasah pisau. Salah satu teman kerja saya adalah lulusan sekolah masak, lalu saya dimarahi dan dibilang tidak memiliki tanggung jawab sebagai seorang koki.
Setelah itu, apabila saya membuat kesalahan sekecil apapun, saya akan diomeli dengan suara besar, saya takut sekali. Karena orang-orang tempat saya bekerja dulu (restoran Unagi/ belut) baik sekali, saya merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Di restoran Unagi, jarak dengan tamu hanya dipisahkan oleh meja kaunter, di resto Washoku ini dapurnya berada di tempat yang tidak terlihat oleh tamu, mungkin ada hubungannya juga disitu.
Tapi saya juga pernah diperlakukan baik kok. Karena pisau yang saya punya tidak terlalu tajam, senior tersebut meminjamkan pisau Jepangnya. Saya sangat berterimakasih karena berkat itu saya lulus di ujian sekolah.

 
Oh begitu ya. Ada orang yang berpikir bahwa memasak adalah dunia keahlian. Menyuruh belajar hanya dengan melihat tanpa penjelasan ya. Atau mungkin saja Hanako diperlakukan lebih tegas daripada orang lain karena Hanako seorang junior. Bisa juga karena dia memang orang yang menyebalkan (tertawa).
Bagaimanapun juga, anda beruntung ya karena bisa punya banyak pengalaman dari kerja part time tersebut. Karena menurut saya pengalaman pertama kali di Jepang tersebut adalah cerita yang sangat berharga.

Berat sih, tapi karena saya memang ingin kerja part time yang berhubungan dengan memasak, saya berjuang untuk melanjutkannya sampai lulus.

 
Anda sudah bertahan di lingkungan yang pahit ya. Bagaimana dengan proses mencari kerja full time?

Awalnya saya bingung, apakah sebaiknya mencari kerja full time atau pulang ke Indonesia. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari kerja yang berhubungan dengan Washoku (masakan Jepang). Ada juga lowongan yang masuk ke sekolah, tapi sayang sekali saya tidak bisa mengikuti tahap wawancara karena yang dibutuhkan adalah orang Jepang.

 
Begitu ya. Padahal bagus sekali ya apabila siapapun bisa mencari pekerjaan di bidang itu untuk menyebarkanluaskan Washoku (masakan Jepang) yang merupakan budaya Jepang tersebut.
Apa yang anda lakukan setelah mengetahui susahnya menemukan pekerjaan melalui sekolah?

Saya diperkenalkan sebuah restoran oleh senior di tempat part time setelah saya bilang kepadanya kalau saya ingin cari kerja.
Pertama-tama saya menyiapkan Daftar Riwayat Hidup, lalu saya diterima setelah 3x wawancara dengan kepala bagian, direktur, dan kepala bagian Washoku.
Saya mulai cari kerja sekitar bulan Oktober, dan saya diterima pada bulan Maret.

 
Butuh waktu sekitar 6 bulan ya. Pekerjaan memasak bidang Washoku (masakan Jepang) jumlahnya pasti sedikit dibanding pekerjaan biasa. Pasti berat sekali ya saat mencari kerja, tapi kamu sudah berjuang keras ya!

Ya. Semacam tantangan juga buat saya karena perusahaan yang menerima ternyata pertama kali mempekerjakan orang asing. Saya tidak begitu mengerti cara mendapatkan visa dengan status pekerja (tertawa). Tapi mereka menyiapkan data-data dan memastikan semuanya untuk saya, lalu saya pergi sendiri ke Imigrasi untuk mengurus visa.

 
Pertama kalinya mempekerjakan orang asing. Kesempatan akan makin luas apabila makin banyak perusahaan yang seperti itu ya. Omong-omong, apakah ada hal yang paling berkesan saat proses mencari kerja tersebut?

Di Jepang harus cepat mencari kerja ya. Kalau di Indonesia mencari kerjanya setelah lulus, di Jepang harus mencari kerja sebelum lulus. Lalu, harus memakai suit (setelan jas lengkap) saat wawancara. Untung saya punya karena saat masih di akademi, setelan jas dibutuhkan saat kuliah hospitality atau saat kunjungan ke hotel. Bagi yang tidak punya, harus beli baru.

 
Iya sih ya. Jepang lebih unik dibanding negara lain, dimana mencari dan memutuskan ingin bekerja dimana sebelum lulus itu adalah hal yang biasa.
Kemudian karena Jepang memulai awal tahunnya pada bulan April, akan sulit mencari kerja di Jepang bagi yang kuliah di negara lain karena waktu kelulusannya berbeda.

Karena saya diputuskan untuk bekerja di bidang memasak setelah masuk perusahaan, saya langsung magang di salah satu gerainya setelah mendapat surat penerimaan.

 
Oh begitu. Seperti apa magangnya?

Jam kerjanya ditentukan oleh shift. Hari yang panjang dimulai dari jam 10:00-23:30. Yang dilakukan juga memasak. Tempat magangnya jauh dari rumah jadi perjalanannya membutuhkan waktu 2,5 jam sekali jalan.
Waktu istirahat seharusnya 2 jam, tapi ada juga hari dimana kalau persiapannya belum selesai jam istirahatnya makin pendek.
Pekerjaannya pun menuntut harus selalu berdiri. Sangat berat karena tidak ada istirahat karena harus melakukan persiapan untuk esoknya meskipun tidak ada tamu maupun tidak ada order.

 
Sudah jam kerjanya panjang, ditambah 4 jam perjalanan bolak-balik. Kelihatannya 1 hari saja sudah capek sekali ya.

Kokinya bukan orang yang galak, tapi saya merasa kurang cocok dengan beliau. Saya hampir tidak pernah diajari karena disuruh untuk mengingat cara memasak hanya dengan melihat. Saat kokinya libur, ada saat dimana saya harus memotong Maguro (tuna). Tapi karena tidak punya pisau khusus memotong Maguro (tuna), saya memakai pisau pribadi. Pisau saya malah rusak….
Karena tidak pernah diajari, tentu saja banyak hal yang tidak saya mengerti, tapi saya malah diperingatkan gara-gara itu sehingga saya jadi stress. Padahal masih magang tapi sudah seperti itu.

 
Terasa sekali dunia keahliannya ya. Apabila tidak diajari seperti halnya perlakuan ke orang Jepang, benar-benar perusahaan yang lingkungan kerjanya keras ya.

Saya pernah mengalami kesulitan seperti itu. Perasaan ragu saya untuk bekerja di perusahaan tersebut bertambah dikarenakan kehigienisan yang tidak begitu dijaga, padahal mereka menjalankan restoran.
Lalu, saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tersebut meskipun belum tahu mau kerja dimana setelah keluar. Saya berpikir mungkin lebih baik pulang ke Indonesia apabila tidak juga menemukan pekerjaan. Habis saya sudah capek dengan kehidupan yang hanya bisa tidur jika sampai di rumah (tertawa).

 
Apakah kamu tidak dicegah saat menyampaikan niat untuk berhenti kerja?

Ya, awalnya dicegah. Saya membuat shock kepala bagian saat pertama kali konsultasi. Apalagi mereka sudah menyiapkan banyak dokumen karena pertama kali mempekerjakan orang asing, dan sepertinya mereka menaruh harapan terhadap saya.
Oleh sebab itu saya bilang untuk saya coba pertimbangkan lagi. Setelah berpikir selama 3 hari, ternyata saya memang tidak mau lanjut dan memutuskan untuk berhenti. Kehidupan terasa sangat berat padahal baru kerja selama 2 bulan. Meskipun hanya magang, tapi saya pikir pengalaman ini bukan hal yang sia-sia.
Pekerjaan yang berhubungan dengan service (termasuk restoran) adalah pekerjaan yang super sibuk. Teman saya pernah kerja di café dan dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah 2 tahun karena pekerjaannya yang berat.

Iya sih ya (tertawa). Seperti yang anda katakan, karena tenaga kerja di bidang service tidak cukup, mereka mengandalkan part time para mahasiswa asing. Mulai sekarang pun akan makin tidak cukup. Masyarakat Jepang harus berpikir sekali lagi, karena kehidupan praktis yang telah dicapai sekarang ini ada berkat kekuatan para pelajar kulit hitam.
Nah, Hanako yang memiliki pengalaman seperti ini, sekarang sudah bekerja di perusahaan lain kan ya? Sebenarnya saya ingin bertanya lebih lanjut tentang itu, tapi lebih baik saya akhiri sekarang supaya tidak makin panjang (tertawa). Tolong ceritakan kisah selanjutnya di lain kesempatan ya!

Sebuah Konsultasi dari Siswa Sekolah Bahasa Jepang

Bulan lalu, datang sebuah konsultasi ke redaksi すかSUKI dari seorang siswa yang sedang belajar di sekolah bahasa Jepang. Karena dewasa ini ada ada banyak orang yang sedang belajar di sekolah bahasa Jepang dan supaya bisa menjadi referensi untuk yang ingin sekolah di sana, kami akan menceritakan isi dari konsultasi tersebut.

 

【Sulit Untuk Melanjutkan Sekolah】

Klien kali ini adalah siswa yang mulai belajar di sekolah bahasa Jepang sejak September tahun lalu. Dia masih memiliki izin tinggal di sana sampai Desember tahun ini dengan status pelajar asing. Tetapi saat ini dia sedang pulang ke Indonesia karena masalah kesehatan.

 

【Yang Ingin Dilakukan di Jepang Kedepannya】

Sang klien bukanlah mahasiswa/i lulusan jurusan bahasa Jepang, melainkan seorang siswa lulusan SMA, jadi dalam kemampuan Bahasa Jepang tergolong masih pemula.
Dia memutuskan sekolah bahasa terlebih dahulu demi bisa melanjutkan pendidikannya ke universitas atau sekolah kejuruan di Jepang.

 

【Pengaruh yang Diakibatkan Apabila Tidak Menghadiri Kelas】

Sekarang klien sedang berada di Indonesia sehingga tidak bisa mengikuti kelas. Karena klien ingin melanjutkan pendidikannya di Jepang setelah lulus sekolah bahasa, dia harus memperpanjang status tinggalnya sebagai pelajar asing.
Yang menjadi masalah disini adalah tingkat kehadiran di kelas atau absensi. Pelajar asing harus rajin datang ke sekolah karena tujuan mereka datang ke Jepang adalah belajar, bukan untuk bermain maupun bekerja.
Meskipun bisa mahir berbahasa Jepang dengan belajar sendiri, orang yang sering absen akan dicurigai oleh pihak imigrasi kalau-kalau siswa tersebut mungkin saja bekerja paruh waktu di banyak tempat tanpa diketahui pihak sekolah.
Akibatnya, besar kemungkinan permohonan memperpanjang visa akan ditolak setelah pemeriksaan oleh pihak imigrasi.

 

【Cara Menangani Kasus Ini】

Apabila bagaimanapun juga harus absen karena harus berobat ke Indonesia, seharusnya sebelum pulang dia menjalani prosedur untuk keluar dari sekolah secara resmi.
Saat itu, perlu untuk menjelaskan alasan dan memberi pengertian kenapa harus pulang supaya hubungan siswa dengan sekolahnya tidak menjadi buruk. Sebab, siswa membutuhkan dokumen dari sekolah bahasa yang sedang dijalaninya tersebut apabila suatu saat ingin mendaftar ke sekolah lain.
Hal ini perlu ditanggapi dengan serius karena andaikan hubungan keduanya sudah terlanjur buruk, ada kemungkinan prestasi siswa tersebut sengaja dibuat jelek oleh sekolahnya.

 

【Memilih dan Mengumpulkan Informasi Secara Mandiri】

Selain kasus ketidak mampuan mengikuti sekolah karena masalah kesehatan ini, kami juga pernah menerima konsultasi dari siswa yang merasa tidak puas dengan sekolah bahasanya dan ingin pindah ke sekolah lain.
Jika mendengar cerita orang Indonesia yang berada di berbagai daerah maupun di Jepang, sangat sedikit yang memilih sekolahnya sendiri karena tidak adanya informasi saat mencari sekolah. Kebanyakan mereka memilih tempat yang diperkenalkan oleh teman, orang tua, maupun gurunya. Tentu saja tidak masalah apabila di kenyataannya dia bisa menjalani kehidupan belajarnya tanpa masalah dan menjadi pintar berbahasa Jepang. Tetapi, mungkin mereka bisa belajar di lingkungan yang lebih ideal baginya apabila bisa membandingkan dan memilih sendiri sekolah yang akan dituju.

 
Untuk kalian yang akan bersekolah di Jepang, すかSUKI bisa menjadi sahabat konsultasi kalian agar menemukan jalan terbaik. Kami juga bisa memperkenalkan sekolah bahasa Jepang untuk kalian yang berminat.
Dan bagi kalian yang sedang bingung memilih sekolah, jangan ragu untuk konsultasi dengan kami!

Wawancara dengan pelajar Indonesia yang pernah sekolah di Jepang

Hari wawancara : 22 September 2017
Tempat : Bandung
Sertifikat JLPT : N3
Status tinggal di Jepang : Visa Pelajar
Pengalaman Part time : Ada
Jumlah pekerjaan : 2
Jenis pekerjaan : Pelayanan

Informasi tempat bekerja
Nama perusahaan : Yoshinoya, Seven Eleven
Jenis pekerjaan : Pelayanan
Posisi : Waitress, Kasir

 
Kapan anda tiba di Jepang?
Saya pertama kali tiba di Jepang tanggal 13 April 2016 di akhir musim semi.

 
Bagaimana kesan pertama kali datang ke jepang?
Amazing. Haha. Karena dari awal sudah terbayang kalau Jepang itu bersih, teratur, fasilitas umumnya memadai dan nyaman. Melihat jalan biasa saja sudah seperti merasa sedang berwisata karena berbeda sekali dengan kondisi di Indonesia.

 
Kalau begitu mungkin setiap hari jadi seperti wisata ya.
Waktu itu anda datang dengan siapa?

Dengan teman-teman dari Jakarta. Ada yang baru tamat SMA. Tapi yang jelas kita punya tujuan yang sama, yaitu buat belajar di Nihongo gakkou atau sekolah Bahasa Jepang.

 
Beruntungnya anda datang bersama teman, jadi tidak begitu khawatir ketika tiba di sana.
Di Jepangnya belajar di mana?

Saya belajar di Osaka.

 
Wah, di Osaka ya! Kalau tidak salah kota yang terkenal dengan Takoyaki dan Okonomiyaki-nya ya.
Lalu, kalau di sekolahnya sendiri belajar apa saja?

Saya belajar Bahasa Jepang dan ada beberapa pelajaran Nihon Bunka (Kebudayaan Jepang), terutama budaya tradisionalnya. Kalau sedang musim panas, kita biasa datang ke matsuri (festival) –nya.

 
Apa alasan anda belajar Bahasa Jepang?
Awalnya dari nonton anime, karena waktu kecil saya suka nonton anime atau drama jepang seperti oshin, karena filmnya sangat memotivasi. Dari sana timbul rasa kagum, dan akhirnya muncul keinginan untuk menggali lebih dalam lagi tentang negara Jepang dan karakter jepang itu sendiri.
Di satu sisi ingin belajar bahasa asing juga. Setelah dipikir-pikir, bahasa yang paling menarik itu Bahasa Jepang, terutama hatsuon atau pelafalannya yang menurut saya paling keren dibandingkan dengan bahasa asing lain.

 
Sudah saya duga, ternyata anda terpengaruh juga dengan anime dan drama Jepang ya. Menurut saya, alasan ini adalah alasan yang paling banyak.Kenapa anda memutuskan untuk belajar di luar negeri?
Karena saya ingin mengenal Jepang lebih dekat. Kebetulan saat itu di kampus juga ditawari program belajar bahasa langsung di Jepang. Selain itu ada keringanan biaya yang diberikan oleh kampus. Jadi akhirnya saya ambil tawaran tersebut.

 
Iya, mumpung ada kesempatan ya.
Belajar di Jepangnya dengan program apa? (biaya sendiri, pertukaran pelajar, atau beasiswa)

Mungkin bisa dibilang biaya sendiri. Biaya hidup juga ditanggung sendiri. Dari sekolah juga ditawari kerja part time, lebih tepatnya diberi saran. Dari baito (kerja part time) itu saya bisa bayar biaya sekolah. Dan karena kampus saya (UPI) punya MoU dengan lembaga sekolah bahasa Jepang tersebut, biaya sekolah jadi lebih murah karena ada potongan.

 
Kalau di Indonesia kan sulit ya menemukan tempat untuk bisa kerja part time. Tapi untungnya ada potongan biaya jadi bisa sedikit meringankan beban ya.
Agenda kesehariannya seperti apa? (kehidupan sekolah, atau tempat kerja)
Saya bangun tergantung hari dan musim, haha. Misalnya kalau musim panas kan jam 03:00 sudah masuk waktu shalat Subuh, jadi saya bangun jam 03:00 langsung shalat Subuh, tidur sebentar, kemudian bangun lagi jam 06:00. Lanjut siap-siap ke sekolah, membuat bekal makan siang, kalau sempat mengerjakan tugas, dan lain-lain. Setelah itu baru berangkat ke sekolah.
Sekolah saya selesai jam 12:00. Setelah shalat, saya makan siang, setelah itu jalan-jalan atau belanja, atau main di sekolah sambil nunggu waktu baito jam 15:00.

 
Mungkin karena ada baito, maka sekolah dibuat hanya sampai siang jadi kita bisa bebas melakukan baito.
Biasanya baito dari jam berapa sampai jam berapa?

Dari jam 15:00 sampai jam 21:00 atau jam 22:00.

 
Wah cukup larut juga ya baito-nya. Setelah itu biasanya langsung pulang?
Tidak langsung pulang, biasanya jalan-jalan dulu, haha. Sampai rumah jam 23:00 dan tidur sekitar jam 01:00 karena sebelum tidur saya suka ngobrol dulu dengan teman sekamar.

 
Pantas saja tidurnya selarut itu. Kalau sudah ngobrol sama teman memang suka jadi lupa waktu ya. Kalau boleh tahu, waktu itu tinggal dengan berapa orang teman?
Saya tinggal dengan 4 orang teman saya.

 
4 orang? Lumayan banyak juga ya. Apa tidak sempit? Hehe.
Sempit sih, tapi ya karena bersama teman jadinya dibawa enjoy saja, haha.

 
Baitonya kerja apa?
Kalau di Yoshinoya saya kerja sebagai waitress, kasir, menyiapkan makanan, dan mengantarkan pesanan pelanggan. Kalau di convenient store (minimarket), saya juga kerja sebagai kasir dan mendata stok barang yang masuk dan yang keluar.

 
Bagaimana caranya bisa mendapatkan informasi tentang baito, apakah dibantu pihak sekolah?
Waktu itu saya sedang senggang, pulang sekolah saya jalan-jalan sambil cari lowongan, lalu saya lihat ada lowongan baito di Yoshinoya. Akhirnya saya coba tanya ke salah satu pegawainya dan pegawai ini menghubungi kepala toko atau pengurusnya. Yoshinoya membutuhkan surat asuransi, tapi karena saat itu saya tidak punya saya memutuskan untuk mencari tempat lain. Akhirnya saya diterima bekerja di Seven Eleven, dan saya bekerja di dua tempat saat itu.

 
Saya pikir tempat kerja baito pun disediakan oleh pihak sekolah, jadi kita tidak perlu mencarinya sendiri. Tapi ternyata walaupun mencari sendiri, tidak terlalu susah ya.
Apa saja kendala yang dihadapi selama baito?

Waktu di Yoshinoya, saya kesulitan menghafalkan pekerjaannya, contohnya harus hafal menu dan harus cekatan. Selain itu harus bisa menjawab pertanyaan menu dari pemesan, kalau di kasir jangan sampai salah hitung. Karena cara memesan makanannya pakai handy (bukan kertas) kadang saya jadi salah meng-klik menu. Dan satu lagi, pesanan yang dipesan pelanggan harus diteriakkan.
Kalau di Seven Eleven, job desknya lebih susah. Semua job kita lakukan, bukan hanya di bagian kasir saja, tapi juga cek barang kadaluarsa serta bersih-bersih toko. Paling susah di bagian kasir, karena pembeli bukan hanya membeli produk tapi juga beli tiket dll. Saya juga punya kendala di bagian membaca huruf kanji.

 
Cukup berat juga ya, padahal sebelumnya di Indonesia belum pernah kerja part time, tapi anda bekerja keras untuk bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan di Jepang, hebat sekali. Berapa gaji yang diterima saat itu?
Gajinya kecil, terutama di Seven Eleven. Gaji training 680 yen/jam, jika bukan training jadi 800 yen/jam. Kalau di Yoshinoya tergantung shift (hari biasa 950 yen/jam).

 
Baitonya di daerah mana?
Daerah sekitar Nipponbashi.

 
Di tempat kerjanya ada orang Indonesia juga?
Kalau di tempat saya tidak ada orang Indonesia, hanya ada orang Vietnam. Kalau teman sekamar, ada dua orang yang bekerja di tempat baito yang sama. Tugasnya berbeda-beda, mungkin karena disesuaikan dengan kemampuan bahasa Jepang mereka.

 
Walaupun sama-sama orang Indonesia tapi kemampuan bahasa Jepangnya pasti berbeda ya. Biasanya orang asing yang memiliki kemampuan bahasa Jepang yang mumpuni bisa baito di posisi yang memang banyak membutuhkan interaksi dengan pelanggan.
Kira-kira berapa biaya hidup di Jepang?

Sewa apartement : 26,000 yen
Air dan listrik : 3,000 yen
Makan : 10,000 yen
Handphone : 6,000 yen
Biaya lain-lain : 3,000 yen
Ada juga biaya untuk kunci apartemen, serta uang jaminan. Tapi saya lupa berapa, mungkin totalnya sekitar setengah dari biaya sewa apartemen.

 
Sewa apartemen sebesar itu, sudah termasuk murah atau mahal?
Karena saya tinggal berempat, ya bisa dibilang sangat murah, hehe.

 
Untuk bisa sekolah di sana berapa banyak uang yang dibutuhkan? (biaya masuk, biaya sekolah)
Biaya sekolah untuk 1 tahun sekitar 390,000 yen.

 
Bagaimana cara pembayarannya? (1 kali, setahun 2 kali, 1 bulan sekali)
Cicilan biaya sekolah bebas tergantung kita. Karena saya ingin cepat lunas, saya cicil selama 5 bulan. Jadi bulan ke 5 biaya sekolah saya sudah lunas. Kalau peraturan sekarang harus dibayar 3 kali, tapi karena dulu masih fleksibel, terserah kita mau bayar berapa kali.

 
Setiap tahun kebijakannya bisa berubah ya. Tapi syukurlah biaya sekolahnya bisa disesuaikan dengan baito yang kita jalani.
Kalau ada waktu senggang, biasanya suka melakukan apa saja?

Misalnya pergi ikut acara yang diadakan sekolah sebulan sekali, seperti party, kumpul dengan teman-teman dari negara lain.

 
Acara seperti ini bagus juga untuk menjalin hubungan yang lebih akrab sesama teman dari negara lain ya. Tentunya banyak pengalaman yang bisa kita dapatkan.
Sebelum pergi ke Jepang, apakah anda punya image tersendiri tentang Jepang?
Image orang Jepang yang sopan, menepati janji dan tepat waktu sangat kuat. Dan satu lagi, di Jepang orang yang memakai hijab akan sulit mendapatkan kerja part time. Hal ini yang membuat saya kepikiran dan khawatir.

 
Bagi muslim, hal ini memang menjadi permasalahan yang banyak dihadapi.
Apakah setelah datang ke Jepang, image itu berubah? (Lebih baik dari yang dipikirkan)
Saya pikir mereka bakal parno berhadapan dengan yang pakai kerudung, tapi ternyata mereka welcome. Walaupun saya pakai hijab, saya tetap bisa berbincang dengan pelanggan. Di jalan maupun di dalam kereta mereka juga ramah.
Lalu, walaupun kita melakukan kesalahan di tempat kerja, mereka tetap baik dengan kita. Mungkin mereka maklum dan senang karena kita belajar bahasa mereka. Kita juga tidak dibeda-bedakan dengan orang asing dari negara lain.

 
Walaupun di satu sisi fasilitas yang mumpuni bagi seorang muslim di Jepang masih kurang, tapi kalau mendengar cerita anda, saya bisa membayangkan kalau sebenarnya mereka sangat perhatian.
Apakah setelah datang ke Jepang, image itu berubah? (Lebih buruk dari yang dipikirkan)

Ternyata di daerah tertentu ada juga tempat yang kumuh dan bau sampai buru-buru ingin segera melewati tempat itu. Ternyata ada juga orang yang tidak baik, banyak pengangguran, tunawisa, dll. Di jalan juga ada puntung rokok dan kaleng bekas minuman yang berserakan. Lalu, susah mencari baito karena saya pakai hijab.

 
Orang yang tunawisma di negara manapun pasti ada ya termasuk di Jepang.
Selain itu, adakah hal lain yang terpikirkan atau dirasakan saat menjalani kehidupan di Jepang?

Mungkin tentang orang Jepang itu sendiri. Yang saya rasakan selama tinggal di sana adalah karakter mereka yang “aimai” (Tidak jelas, sulit dimengerti). Contohnya, sebenarnya mereka marah tapi tidak menunjukkan bahwa mereka sedang marah. Tapi biasanya ketahuan dari gaya komunikasi/ bahasa mereka.
Saya tinggal di Osaka yang sedikit berbeda dengan kota lainnya. Di Osaka, kita disarankan untuk tidak terlalu kaku dan tidak terlalu serius. Contohnya, walaupun saat jam kerja kita diperbolehkan mengobrol, tapi kalau sedang bercanda jangan sampai berlebihan.

 
Merupakan hal yang wajar apabila masing-masing daerah di Jepang memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. Saya baru tahu kalau ternyata karakter orang Osaka menarik juga ya. Berbeda halnya dengan orang Jepang yang tinggal di kota besar seperti Tokyo.
Hal apa yang dirasa paling sulit selama tinggal di Jepang?

Supermarket yang menjual makanan halal masih sedikit sekali jumlahnya. Meskipun ada salad tapi mayonaisenya mengandung sake, mirin, dll. Dan yang paling sulit adalah saat meminta izin untuk shalat, karena walaupun sedan istirahat, toko sering ramai oleh pengunjung saat jam-jam istirahat tersebut.

 
Tapi sebaiknya kita tidak perlu sungkan untuk meminta izin kepada kepala toko, saya yakin mereka akan mengerti. Walaupun ada rasa tidak enak, tapi apa boleh buat ya.
Kalau ada kesulitan biasanya cerita ke siapa?

Saya suka cerita ke sensei, teman atau senior di sana.

 
Contohnya kesulitan dalam hal apa?
Waktu awal-awal mengurus dokumen. Bagaimana caranya membuat surat asuransi, membuat akun bank, membeli sepeda dan membuat inkan (seperti stample pribadi). Kita harus punya inkan sendiri. Jadi sebelum mengurus dokumen apapun, kita harus membuat inkan terlebih dahulu. Saya ditunjukkan tempat membuatnya oleh senior.

 
Beruntung sekali ya ada senior yang bisa membantu dengan sukarela.
Support seperti apa yang anda inginkan untuk mempermudah kehidupan di Jepang?
Pelayanan di Jepang rata-rata menggunakan bahasa Jepang. Mungkin mereka pikir orang asing juga bisa bahasa Jepang. Saya ingin ada pelayanan yang memakai bahasa Inggris untuk membantu orang asing. Atau minimal ada penjelasan dalam bentuk tulisan bahasa Inggris. Lalu fasilitas public seperti ruang shalat di taman misalnya. Oya, dan juga tolong halal food diperbanyak, hehe.

 
Saya juga setuju dengan anda. Masih sedikit pelayanan publik yang disediakan dalam bahasa Inggris. Jadi, satu-satunya cara untuk bisa aman berada di Jepang, minimal kita bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang dasar. Tapi kalau pelayanan seperti pembuatan dokumen, dll tidak tersedia dalam bahasa Inggris lain lagi ceritanya ya.
Sepatah dua patah kata bagi yang ingin sekolah di Jepang!

CULTURE SHOCK di awal-awal mungkin adalah hal yang wajar, tapi seiring dengan berjalannya waktu, kita bisa menikmati hari-hari dengan lebih menyenangkan. Biaya hidup di Jepang mahal, tapi kita tidak perlu khawatir karena ada banyak part time di sana. Hal yang paling penting adalah kita kesana sebagai cerminan dari negara dan juga agama kita, jadi taati peraturan dan tunjukkan tata krama yang baik.
Jaga image nama baik negara, karena dari sikap kita itu mereka akan menginterpretasikan karakter negara kita. Walaupun mungkin Jepang sudah punya image tersendiri terhadap negara-negara lain. Istilahnya dalam Bahasa Indonesia, “Dimana bumi dipijak , disitu langit dijunjung.”

 
Akhirnya kita sampai di pertanyaan yang terakhir. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk bisa kami wawancara.

Toilet di Jepang

Setiap negara memiliki budaya dan kebiasaan masing-masing dalam berbagai macam hal, termasuk dalam penggunaan toilet. Jepang juga memiliki etika yang berbeda dengan di Indonesia ketika menggunakan toilet. Kali ini すかSUKI akan membahas etika menggunakan toilet di Jepang untuk mempermudah teman-teman ketika berkunjung ke Jepang.

 

【Jenis Toilet】

Jepang memiliki dua jenis toilet. Pertama, toilet gaya Jepang yang mirip dengan toilet jongkok Indonesia. Kedua, adalah toilet gaya barat atau toilet duduk. Ketika menggunakan toilet gaya Jepang, jongkoklah menghadap lengkungan toilet dengan punggung membelakangi pintu toilet. Toilet gaya barat dapat kita gunakan seperti biasa, yakni buka tutup dan duduk di atasnya. Ingat, jangan jongkok di atas toilet gaya barat, ya!

 

Gambar 1 : Cara menggunakan toilet di Jepang

 
 

【Tisu Toilet】

Toilet Jepang menyediakan tisu toilet yang dapat digunakan setelah buang air kecil atau besar. Tapi berbeda dengan di Indonesia, tisu toilet Jepang dapat larut dalam air. Karena itu buanglah tisu ke dalam toilet dan jangan lupa untuk di flush. Khusus untuk toilet wanita, biasanya disediakan tempat sampah kecil di dalam toilet. Tempat sampah ini khusus untuk membuang pembalut, jangan pernah membuang tisu toilet di sini!

 

Gambar 2 : Buang Tisu ke Dalam Toilet

 
 

【Antri untuk Menggunakan Toilet Umum】

Saat teman-teman ingin menggunakan toilet umum, kalian harus ingat untuk mengantri dengan baik dan benar. Jika toilet penuh, para pengguna diharapkan untuk mengantri dalam satu barisan, tidak berebut, juga tidak berdiri tepat di depan pintu toilet yang ingin digunakan.

 

Gambar 3 : Cara Mengantri di Toilet Jepang

 
 

Penggunaan Slipper Toilet

Ketika teman-teman berkesempatan untuk mengunjungi rumah seseorang di Jepang, teman-teman diharuskan untuk melepas sepatu yang sedang digunakan dan menggantinya dengan slipper selama berada di dalam rumah. Tetapi harus diingat ketika teman-teman ingin menggunakan toilet, teman-teman harus mengganti slipper ini dengan slipper khusus untuk toilet. Slipper rumah bisa ditinggal di depan pintu toilet, sebagai tanda bahwa teman-teman sedang menggunakan toilet. Setelah selesai, jangan lupa ganti slipper toilet dengan slipper rumah lagi.

 

Gambar 4 : Slipper Toilet

 
Di atas adalah beberapa etika menggunakan toilet di Jepang yang harus teman-teman perhatikan. Bukan hanya toilet, pastikan untuk selalu mengikuti dan menghargai kebiasaan yang ada ketika kita berkunjung ke negara lain.

Petunjuk Penggunaan Toilet Jepang

Teman-teman すかSUKI, apakah pernah menonton film “Cars 2”? Kalau pernah, pasti ingat dengan adegan toilet Jepang dengan tombolnya yang bikin pusing.
Jepang memang terkenal dengan teknologinya yang sangat canggih, termasuk teknologi yang digunakan untuk toilet. Toilet di Jepang terkenal dengan banyaknya tombol yang memiliki berbagai macam fungsi. Melanjutkan artikel sebelumnya, kali iniすかSUKI akan memperkenalkan petunjuk penggunaan toilet di Jepang.
Toilet umum di Jepang ada dua tipe, yakni toilet dengan kloset jongkok dan kloset duduk. Biasanya, toilet duduk di Indonesia hanya dilengkapi dengan tombol atau lever untuk flush. Berbeda dengan di Jepang, toilet kloset duduk untuk umum di sana sering dilengkapi dengan tombol-tombol yang memiliki fungsi canggih. Seperti misalnya saja toilet duduk yang ada di Bandara Internasional Haneda ini.

Gambar 1: Toilet duduk di Bandara Internasional Haneda

Sekilas toilet duduk ini tidak terlihat berbeda dengan toilet duduk yang ada di Indonesia. Tetapi, tombol-tombol yang ada di samping kloset bisa membuat kita cukup gugup bila kita tidak mengerti arti dan cara penggunaannya. Yuk, mari kita lihat tombol-tombol tersebut lebih dekat.

Gambar 2: Tombol-Tombol di Toilet Jepang

Tombol ini bisa terpasang di dinding, maupun langsung terpasang menjadi satu dengan kloset duduk. Sekarang, Jepang sudah banyak menyediakan penjelasan dalam bahasa Inggris seperti yang tertera di gambar, tapi tidak ada salahnya jika kita mempelajari cara baca dan penggunaan tombol ini satu persatu karena masih ada toilet di Jepang yang tidak mencantumkan penjelasan dalam bahasa Inggris. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing tombol.




FLUSH (流す, nagasu) adalah, sesuai namanya, untuk menge-flush atau menyiram toilet setelah kita buang air kecil atau besar. ‘Flush’ bisa tersedia dalam bentuk tombol seperti di gambar, lever seperti yang ada di Indonesia, atau juga bentuk sensor di mana kita hanya perlu menempelkan tangan kita di depan sensor.

おしり(oshiri, pantat) dengan tombol berwarna biru adalah tombol untuk mengeluarkan air dan mencuci bagian belakang setelah kita buang air besar.

ビデ (bide, bidet) dengan tombol berwarna merah muda adalah tombol khusus untuk wanita di mana tombol ini berfungsi untuk mengeluarkan air dan mencuci bagian kewanitaan setelah kita buang air kecil.

乾燥(kansou, mengeringkan) dengan tombol berwarna kuning adalah tombol dengan fungsi mengeluarkan udara hangat untuk mengeringkan bagian yang tadi telah dibilas dengan air.

止 (tomaru, berhenti) dengan tombol warna merah adalah tombol yang berfungsi untuk menghentikan air yang mengalir untuk membilas setelah kita menekan tombol おしり(Oshiri) atau ビデ(Bide). Jadi, jangan sampai lupa untuk menekan tombol ini sebelum berdiri dari kloset.

水勢 (suisei, tekanan air) tombol (+) dan (–) yang ada di bawah tombol 止 dan おしりini berfungsi untuk mengatur tekanan dan kekuatan air yang keluar ketika kita menekan tombol おしりatau ビデ.

洗浄位置 (senjou ichi, posisi membilas) dengan tombol 前 (Mae) yakni berarti depan dan 後(Ushiro) yang berarti belakang, tombol ini berfungsi untuk mengatur posisi keluarnya air ketika kita menekan tombol おしり (Oshiri). Jadi tidak perlu mengubah posisi duduk, cukup sesuaikan posisi keluarnya air dengan menggunakan tombol ini.

Selain tombol-tombol di atas mungkin ada tombol lain yang sudah sering teman-teman dengar. Seperti tombol yang mengeluarkan bunyi-bunyian untuk mengklamufase suara ketika kita buang air kecil bernama 水流音 (Suiryuuon, suara air mengalir) atau 音姫 (Otohime, ‘suara putri’). Ada juga tombol yang dapat menghangatkan tempat duduk kloset ketika musim dingin bernama 暖房便座(Danbo benza, kloset dengan penghangat).
Bagaimana? Apa teman-teman sudah ingat fungsi dari masing-masing tombol? Toilet di Jepang memang unik, tapi sama seperti ketika teman-teman menggunakan toilet di Indonesia, jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan toilet. Semoga artikel kali ini bermanfaat bagi teman-teman semua.